Belajar Berinteraksi dan Bertahan

Kakak Teduh berbaju merah, meminjamkan Raynar mainan.

Ini adalah cerita beberapa bulan lalu. Sewaktu Raynar ikut aku  pelatihan, di lokasi Raynar berkenalan dengan kakak yang usianya setahun di atasnya. Namanya kakak Teduh. Sesuai namanya, kakak Teduh bisa bikin Raynar teduh selama pelatihan berlangsung. Gak rungsingan meski menunggu lama. Kakak Teduh membawa beberapa mainan yang dia pinjamkan ke Raynar. Mengajak Raynar main sama-sama dan berinteraksi. Kakak Teduh berusaha sabar mendengar ucapan Raynar yang belum semuanya jelas (waktu itu Raynar masih usia 1 tahun 7 bulan). Sesekali kakak Teduh bertanya, “Dia bilang apa? Ga ngerti.” Lalu aku jelaskan dan kakak Teduh merespon Raynar sesuai penjelasanku. Manisnya.

 

  

Raynar lalu teralih dengan anak yang lebih kecil usianya. Kali ini Raynar yang aktif mengajak adik itu main dengan mainan pinjaman dari kakak Teduh. Raynar menggerakkan kereta di kursi sambil bilang, “Liat. Naik.” Lalu adik kecil terbahak. Setelah beberapa kali main, Raynar memeluk adik kecil lalu dadah.
Raynar ternyata belajar bagaimana cara mengajak main anak yang lebih kecil dari kakak Teduh.

Alhamdulillah. Bubu bahagia.

Selain belajar berteman ternyata Raynar juga belajar bertahan dan berjuang. Aku hanya diam mengamati dari jarak beberapa meter ketika kaki Raynar yang tidak bersepatu diinjak, mainannya direbut, didorong hingga jatuh, dan kepalanya terbentur kursi (yang untungnya berbahan plastik).

Waktu kakinya diinjak, Raynar hanya teriak, “Lepaaaasss. Sakiiittt.” Teriak berulang sampai anak itu melepas injakannya. Lalu Raynar pergi menghindar. Waktu direbut mainannya, Raynar bertahan dan merebut kembali sambil teriak, “Mamauuuuu…” (baca : ga mauuuu) sampai mama anak itu datang dan minta anaknya minta maaf pada Raynar.

Waktu Raynar didorong sampai jatuh dan kepalanya terbentur, akhirnya dia menangis, lari meluk aku hanya untuk menenangkan diri. Setelah tenang dia main lagi dan mendekati mama anak yang mendorongnya. Raynar cerita, “Jatuh jeduk nangis.” Sambil menunjuk tempatnya jatuh dan kepalanya yang terbentur. Mama anak itu paham dan bertanya pada anaknya lalu minta anaknya meminta maaf lagi seraya memeluk Raynar.

Ternyata, ‘teori’ tentang anak-anak yang bisa belajar bertahan ketika orangtua gak banyak ngerecokin memang benar adanya…
Tapi memang orangtua butuh perjuangan menahan diri dari degdegan, waswas, takut anak celaka, dan harus percaya bahwa anaknya bisa. Itu cukup berat. Dan memang, sebagai orangtua aku ingin rasanya menasehati anak itu supaya bisa main dengan lebih aman. Tapi sebagai guru, sadar bahwa anak itu juga sedang belajar berinteraksi.

Menjadi orangtua memang butuh belajar tapi tidak pernah ada sekolahnya. Anak yang menjadi sekolahnya.


One Comments

  • Dini

    December 11, 2017

    Waaa.. iya bener iniii. Susah banget prakteknya hahahaha. Apalagi di tempat umum gitu, Tanya termasuk yang diem aja kalo diapa-apain anak lain.. berulang kali tarik nafas liatnya.. ga tega tapi itu bikin dia jadi belajar bertahan..

    Reply

Leave a Reply