Belajar Membaca dan Menerjemahkan Sakit

Sejak awal kehamilan, aku banyak belajar sana sini mengenai perkembangan janin, kelahiran, mengurus anak, kesehatan, dan sebagainya. Tapi, ternyata memang kenyataannya tidak selalu selancar teori yang dipelajari. Kepanikan seringkali melanda ketika hal yang terjadi tidak sesuai teori atau tidak sama seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Selain panik, aku juga sering mencoba tenang tapi ternyata seharusnya aku berhati-hati dan waspada. Jadi serba salah rasanya.

Raynar punya ‘bakat’ alergi yang diturunkan dariku. Awalnya aku merasa itu hal yang wajar dan tidak berbahaya, tapi ternyata tidak sepenuhnya aku benar. Dan aku sadar, aku harus makin banyak belajar.

Tahun lalu, Raynar sempat sakit batuk. Batuk berdahak yang cukup lama. Kupikir yang namanya sakit batuk dan pilek adalah hal yang lumrah buat anak-anak. Anak mana sih yang ga pernah batuk? Tapi ternyata, batuk yang disertai demam tinggi bisa berbahaya, apalagi jika diikuti dengan nafas yang semakin berat bahkan sesak. Tapi saat itu aku seperti menyangkal. “Ah, Raynar pasti asma seperti aku.” Sampai akhirnya, Raynar masuk UGD dan menurut dokter harus dirawat karena sudah mengalami radang paru-paru.

Raynar di UGD tahun lalu.

Sejak Raynar mulai sakit, aku semakin cemas kalau dia batuk. Batuk sedikit langsung ke dokter. Panas sedikit kelimpungan tapi jadinya seringkali tidak bisa berpikir jernih. Galau mau ke dokter atau dirawat sendiri. Merawat anak yang sakit sendiri pun pengetahuan masih sangat terbatas. Sampai akhirnya minggu lalu pun aku kecolongan lagi. Raynar sakit batuk lagi sampai harus dirawat lagi, karena panas badannya terus turun naik. Gejala mirip dengan sakit DBD yang membuat aku semakin cemas.

Raynar cek darah

Akhirnya Raynar dirawat (lagi dan lagi) dengan diagnosa awal kemungkinan DBD, dan harus terus diobservasi dengan melakukan cek darah setiap hari. Menurut perawat, jika hasil cek darah selanjutnya mengalami kenaikan trombosit, maka bisa jadi ‘hanya’ infeksi virus. Buatku yang orang awam di bidang ilmu kedokteran, tentu ini makin membuat degdegan. Aku harus lebih banyak belajar dan tahu tentang kesehatan anakku sendiri dan cara mengatasinya di awal gejala.

Aku kemudian memutuskan ikut workshop yang diadakan oleh dokter Frecillia Regina setelah Raynar sembuh. Supaya suatu saat bisa lebih siap memberi pertolongan pertama jika melihat gejala sakit. Dokter Frecil cukup sering membantuku untuk tau banyak tentang masalah ASI dan kesehatan sejak awal kelahiran  Raynar, meski Raynar tidak sepenuhnya selalu dirawat oleh Dokcil. Workshop ini disebut #TerjemahkanAKu dengan beberapa tema yang bisa diikuti. Beberapa bulan lalu aku ikut workshop #TerjemahkanMakanku dan kali ini aku mengikuti tema #TerjemahkanSakitku.

Materi yang dibahas di workshop ini adalah gejala-gejala sakit yang sangat sering menghampiri anak-anak. Seperti demam, muntah, mencret, pilek, batuk, sesak, kejang, dan munculnya bintik merah di kulit.  Aku akan bahas sedikit yaaa…

Demam

Demam merupakan suatu gejala dari penyakit. Jadi pasti ada penyakit lainnya di tubuh anak yang membuat anak demam dan harus dicari segera penyebabnya. Yang disebut dengan demam adalah jika suhu tubuh sudah berada di atas 37,5 derajat celcius. Karena demam adalah merupakan gejala, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengukur suhu tubuh anak dengan menggunakan termometer. Bukan langsung memberinya obat apapun.

Yang bisa menjadi penyebab demam adalah infeksi. Infeksi bisa saja terjadi di saluran pernafasan (batuk, pilek, sesak nafas), saluran pencernaan (muntah, mencret, sakit perut), saluran kemih (sakit saat berkemih, ngompol, sakit pinggang), susunan syaraf (kejang, penurunan kesadaran), kulit (merah, gatal-gatal).

Sebenarnya, jika anak demam dengan suhu lebih dari 37,5 derajat tandanya tubuh anak sedang melawan kuman yang ada di dalam tubuhnya. Daya tahan tubuhnya bekerja 20 kali lebih cepat dan kuman pun akan terbunuh lebih cepat jika anak dalam kondisi badan panas. Karena itu, dengan segera memberi obat penurun panas ketika anak baru saja diketahui demam adalah tindakan yang SALAH. Jika demam langsung diturunkan dengan obat, maka sakit akan sembuh lebih lama daripada seharusnya. Jadi apa yang harus orangtua lakukan saat anak demam?

Ukur suhu anak dengan menggunakan termometer. Jenis termometer yang paling akurat adalah yang paling menempel pada tubuh. Termometer yang paling akurat adalah termometer air raksa namun membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan suhu akurat (kurang lebih 5 menit). Catat suhu tubuh secara rutin tiap 3-4 jam. Jika jarak demam semakin menjauh atau semakin lama suhu semakin rendah, ini berarti kondisi anak membaik. Tubuhnya berhasil melawan kuman. Jika panas anak sudah lebih dari 38,5 derajat dan kondisinya semakin lemas dan rewel, orangtua bisa memberinya obat penurun panas. Jika jarak panas semakin lama semakin dekat, maka orangtua perlu waspada. Atau jika suhu semakin lama semakin panas dan berlangsung selama 3 x 24 jam, maka anak harus segera dibawa ke dokter.   Tapi, jika anak sudah memiliki riwayat kejang, maka saat demam lebih dari 37,5 derajat harus langsung diberi obat penurun panas.

Dalam mengatasi demam pada anak, ada dua cara yang dapat dilakukan oleh orangtua di rumah yaitu dengan menurunkan suhu tanpa obat dan menurunkan suhu dengan menggunakan obat. Namun perlu diperhatikan juga pada penjelasan sebelumnya, kondisi seperti apa yang membuat orangtua perlu menurunkan panas anak, apalagi jika dengan menggunakan obat.

Menurunkan suhu dengan tanpa obat :

  • Menggunakan kompres hangat dengan suhu antara 24 derajat – 33 derajat, boleh juga menggunakan air suhu ruang. Jika ingin dihangatkan tidak boleh lebih dari 37 derajat. Cara mengompres yang benar adalah dengan merendam handuk di dalam air bersuhu antara 24-33 derajat, basuh muka dan leher anak kemudian keringkan dengan menggunakan handuk kering. Lalu basuh kembali dada hingga perut dengan handuk hangat dan keringkan. Selanjutnya, basuh tangan, kaki hingga seluruh tubuhnya dibasuh lalu keringkan kembali. Jadi, anak bukan hanya dikompres di kening saja.
  • Kontak kulit dengan kulit. Anak yang sedang demam dibuka seluruh pakaiannya dan didekapkan pada tubuh ibu. Ibu hanya memakai kimono atau kemeja longgar untuk membalut tubuhnya dan juga anak. Kulit ibu (dada dan perut) harus menempel pada kulit anak secara langsung.
  • Anak harus menggunakan pakaian tipis, tidak berlapis-lapis, dan tidak memakai selimut atau kaus kaki.
  • Anak harus berada di lingkungan yang nyaman. Boleh menggunakan AC yang penting dengan suhu yang memang benar-benar membuat anak nyaman.
  • Pastikan anak banyak minum air putih. Jika menolak air putih bisa juga memberinya sari buah, jus, atau buah-buahan yang banyak mengandung air. Utamakan minum air putih yang banyak.

Menurunkan suhu dengan menggunakan obat :

  • Paracetamol dengan perhitungan dosis 10mg per kgBB. Jadi orangtua perlu menghitung berat badan anak untuk mengetahui dosis yang tepat pemberian obat pada anak. Dosis yang tertera pada kemasan obat penurun panas biasanya dibuat dibawah dosis seharusnya. Pemberian obat maksimal diulang tiap 4 jam.
  • Ibuprofen dengan dosis 5-10 mg per kgBB. Pemberian ibuprofen maksimal dapat diulang tiap 6 jam. Kandungan di dalam ibuprofen lebih kuat dari paracetamol sehingga tidak boleh diulang jika kurang dari 6 jam. Ketika akan minum obat penurun panas jenis ibuprofen, pastikan anak harus mengisi lambungnya terlebih dulu, minimal dengan susu. Jika dosis terlalu banyak atau anak terlalu sering meminum obat berjenis ibuprofen bisa berakibat pendarahan pada saluran cerna.
  • Pemberian obat melalui anus. Pemberian obat jenis ini tidak boleh dilakukan terlalu sering. Biasanya diberikan pada anak demam dengan kejang. Pemberian obat melalui anus memiliki resiko psikologis bagi anak.

Anak perlu langsung dibawa ke dokter jika mengalami :

  • Kejang-kejang
  • Sesak nafas
  • Demam dengan suhu lebih dari 40,2 derajat
  • Tidak mau makan dan minum serta tampak lemas
  • Mimisan, gusi berdarah, BAB darah, muntah darah, bintik-bintik merah
  • Hingga waktu 3 x 24 jam masih demam

Muntah

Muntah adalah cara tubuh agar benda asing, kuman, dan sebagainya keluar dari tubuh. Sehingga penyakit sebenarnya dapat cepat sembuh jika dikeluarkan. Muntah yang normal biasanya hanya terjadi pada 10 jam pertama sejak benda asing atau kuman masuk ke dalam tubuh. Resikonya, cairan serta makanan dalam tubuh anak juga akan ikut keluar. Jika terjadi berulang-ulang maka bisa mengakibatkan kekuranga cairan. Sehingga tubuh anak akan merasa haus dan anak akan ingin banyak minum. Orangtua perlu mencatat frekuensi muntah, berapa banyak tiap kali anak muntah, isi muntahannya (makanan, minuman, atau cacing), serta warna muntah (kuning, hijau, darah, warna makanan yang masuk terakhir).

Untuk mengatasi muntah, dapat dilakukan :

  • Memberikan anak minum sedikit demi sedikit tapi sering. Gunakan sendok dan cairan yang masuk perlu ditakar untuk mengetahui jumlah cairan yang diminum oleh anak.
  • Berikan cairan yang mengandung elektrolit seperti oralit (larutan gula dan garam) atau cairan apapun yang anak suka. Cairan elektrolit diberikan supaya anak tidak kembung karena terlalu banyak mengkonsumsi air.
  • Jika bayi masih menyusui, berikan ASI lebih sering dari biasanya.
  • Orangtua perlu segera mencari penyebab muntah. Misalnya karena infeksi, keracunan makanan, kemasukan benda asing, atau karena tersedak.
  • Obat hanya diberikan jika sudah sering diberi minum namun tetap menunjukkan tanda-tanda kekurangan cairan. Tanda kekurangan cairan/dehidrasi : anak lemas dan tidak mau minum, mata cekung tidak ada air mata, mulut dan bibir kering, serta tidak pipis dalam 6 jam.
  • Obat yang dapat diberikan adalah Domperidon dengan dosis 0,2-0,4 mg pe kgBB. Diberikan  30 menit sebelum makan atau minum sebanyak 3x sehari.
  • Jika setelah 30 menit obat masuk, anak dicoba untuk diberikan makan dan minum. Jika masih muntah, maka anak perlu segera dibawa ke dokter atau UGD.

Mencret

Mencret adalah cara tubuh untuk mengeluarkan benda asing, kuman, dan sebagainya. Jika anak mencret, maka kuman akan lebihh cepat keluar dan penyakit akan lebih cepat sembuh. Biasanya mencret terjadi setelah anak mengalami muntah atau bisa saja langsung mencret. Karena mencret adalah cara untuk mengeluarkan kuman dari tubuh anak, maka lebih baik jika mencret tidak dihentikan secara langsung. Namun mencret beresiko cairan dan makanan ikut keluar, dapat menyebabkan kekurangan cairan, anak akan terus merasa haus, dan ingin banyak minum. Orangtua perlu mencatat berapa kali frekuensi mencret, berapa banyak volume tiap kali mencret, warna, bau, apakah berlendir, atau apakah ada darahnya. Saat anak mencret, JANGAN memberinya teh pahit karena justru teh menghambat zat besi dan menghambat berat badan anak naik.

Jadi, cara yang baik untuk mengatasi mencret adalah :

  • Berikan minum 10ml per kgBB (minimal anak harus minum 60ml) setiap kali mencret untuk mencegah kekurangan cairan.
  • Pilih cairan yang mengandung elektrolit seperti oralit (larutan gula dan garam) tetapi cairan lain pun boleh asalkan anak suka. Cara membuat oralit adalah dengan mencampurkan 1 liter air dengan 1/2 sendok teh (kurang lebih 5 ml) garam dan 6 sendok teh gula.
  • Jika bayi masih ASI, maka berikan ASI lebih sering dari biasanya.
  • Berikan zinc 10 mg untuk bayi yang berusia kurang dari 6 bulan dan zinc 20 mg untuk bayi di atas 6 bulan.
  • Minuman probiotik seperti youghurt, yakuult, lacto-b, l-bio, dan sebagainya boleh diberikan.
  • Orangtua perlu mencari penyebab mencret (infeksi, alergi, atau ada gangguan pencernaan), jika perlu bisa dilakukan pemeriksaan laboratorium.
  • Orangtua pun perlu memperhatikan tanda-tanda kekurangan cairan.
  • Jika pada kotoran terdapat lendir darah atau ada tanda kekurangan cairan, sebaiknya anak segera dibawa ke dokter atau ke UGD. Karena bisa jadi anak mengalami disentri.

Pilek

Bersin, pilek, dan hidung yang mampet merupakan cara tubuh mempertahankan diri agar kuman, benda asing, atau alergen keluar dari tubuh. Pilek ada 2 jenis yaitu pilek infeksi dan pilek alergi. Biasanya pilek infeksi diikuti dengan demam, berlangsung sepanjang hari, maksimal 14 hari pilek harus sudah sembuh, anak akan tampak lebih rewel, dan aktivitasnya terganggu. Pilek alergi tidak disertai dengan demam, terjadi hanya pada waktu-waktu tertentu, aktivitas bisa berjalan normal, makan minum serta tidur tidak terganggu, dan anak memiliki riwayat alergi dari keluarganya.

Untuk mengatasi pilek anak perlu diajarkan untuk membuang ingusnya dengan menggunakan sebelah hidung, sebelah hidung lagi ditutup dan dilakukan secara bergantian. Anak pun perlu lebih sering berjemur, mandi air hangat, diberi uap air panas, dan diberi tetesan air garam atau semprot. Cara membuat tetesan air garam adalah dengan mencampurkan 100 ml air dengan sejumput garam, lalu celupkan tisu dan dimasukkan ke dalam lubang hidung. Anak perlu segera dibawa ke dokter jika dalam 14 hari pilek belum sembuh.

Batuk

Batuk merupakan cara tubuh untuk mempertahankan dirinya agar kuman, benda asing, dan alergen keluar dari tubuh. Dahak yang ada di dalam tubuh bisa dimuntahkan atau ditelan dan dikeluarkan lewat BAB. Ada beberapa jenis batuk yang mungkin terjadi pada anak yaitu batuk karena tersedak, batuk infeksi, dan batuk alergi. Batuk infeksi biasanya disertai dengan demam, terjadi sepanjang hari, maksimal 14 hari batuk harus sembuh, anak akan lebih rewel, dan aktivitas terganggu. Biasanya batuk kering terlebih dulu kemudian batuk berdahak dan berangsur sembuh.

Cara mengatasi batuk :

  • Minum air putih yang banyak karena air putih adalah pengencer dahak yang utama.
  • Jika anak tersedak, posisikan anak tengkurap lalu tepuk punggungnya.
  • Jika infeksi, tidak langsung memberi anak penghenti batuk.
  • Jika anak mengalami batuk alergi perlu dilihat kembali apakah batuk tersebut asma, lakukan tes alergi, dan menghindari alergen.
  • Nebulasi / uap hanya dilakukan atas petunjuk dokter untuk penderita asma. Yang paling aman adalah yang mengandung Nacl uuntuk mengencerkan dahak.

Batuk yang sangat hebat seringkali membuat anak menjadi sesak nafas. Orangtua perlu melihat apakah anak sudah mulai sesak jika hidung mulai kembang kempis dan tarikan nafas terlihat sangat dalam (terlihat dari dada dan perut yang mencekung). Jika anak mengalami sesak nafas, harus segera dibawa ke UGD.

Kejang

Kejang terjadi karena ada aktivitas otak yang terganggu. Saat anak mengalami kejang, posisikan badannya miring, baju dibuka, dan jangan memberi anak minum. Beri anak obat kejang via anus dan bawa segera ke UGD. Orangtua perlu segera mencari penyebab terjadinya kejang pada anak. Kejang bisa terjadi karena :

  • Kejang demam (anak dalam kondisi sadar, demam tinggi, ada infeksi di luar otak).
  • Radang otak (kejang terjadi berulang, tidak sadar, dan demam tinggi).
  • Gegar otak (riwayat terbentur kepala, muntah yang menyemprot, penurunan kesadaran)
  • Memiliki kelainan bawaan seperti hidrosefalus dan mikrosefalus.
  • Epilepsi (kejang berulang, sadar, tanpa disertai dengan demam).

Bintik Merah pada Kulit

Banyak penyebab munculnya bintik merah dan semuanya tetap harus mandi. Karena semakin kulit bersih akan semakin baik. Jenis-jenis bintik merah bisa dilihat dari beberapa gejalanya :

  • Campak : demam, batuk, pilek, mata merah, saat keluar bintik merah demamnya semakin tinggi.
  • Roseola : demam tinggi, saat keluar merah-merah demam turun.
  • Campak Jerman : pembesaran kelenjar getah bening. Pembekakan terlihat ada di sekitar belakang telinga.
  • Cacar air : bintik-bintik isi air, cepat menyebar dalam beberapa jam. Vaksin varisela bukan mencegah anak tidak terkena cacar air tetapi membuat cacar tidak parah (tidak pakai demam, bintik yang muncul hanya sedikit 10-20 bintik).
  • Impetigo : infeksi bakteri karena digaruk-garuk.
  • Demam berdarah : demam tinggi, bintik merah harus dibedakan. Caranya dengan menekankan gelas kaca ke tubuh yang berbintik, jika bintik semakin terlihat membesar, maka itu adalah bintik demam berdarah.

Dokter Frecil menjelaskan bedanya bintik merah karena DBD dan bintik merah yang bukan DBD.

Saat orangtua akan melakukan konsultasi dengan dokter melalui pesan teks atau WA, orangtua perlu melampirkan data dengan lengkap, seperti umur anak, berat badan, ceritakan gejala dengan lengkap, usaha yang sudah dilakukan di rumah, dan tanyakan mengenai hal yang selanjutnya perlu dilakukan oleh orangtua.

Sepanjang workshop ini, sebenarnya sudah ada beberapa pengetahuan yang sudah aku ketahui sebelumnya. Ada pula pengetahuan baru atau pengetahuan yang aku tahu tapi ternyata salah dalam penerapannya. Pengetahuan dan ilmu yang diberikan oleh dokter Frecil memang pengetahuan dasar bagi orangtua yang merupakan orang awam dan biasanya hanya berbekal banyak pengalaman yang diberikan oleh nenek dan kakeknya dulu. Jadi bagi aku, penyegaran ilmu saat mengikuti workshop ini sangat bermanfaat dibanding hanya membaca artikel atau membaca buku.

Semoga bermanfaat yaaa…

 


One Comments

  • rani

    August 24, 2018

    menarik sekali artikelnya, . thanks.

    Reply

Leave a Reply