Siapa yang akan menyangka bahwa kita semua akan mengalami hidup layaknya di film-film thriller yang seringkali ditonton di bioskop. Pandemi virus Corona yang mulai merebak di akhir tahun 2019 dan semakin menyebar ke seluruh dunia membuat kita yang ada di Indonesia juga pada akhirnya harus #dirumahaja. Alih-alih melakukan banyak penyangkalan dengan menolak melakukan social distancing atau hanya sekedar menyerahkan segalanya pada Tuhan, aku memilih untuk mencoba mengikuti arahan dan aturan yang memang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia bahkan oleh WHO. Aku sudah hampir 2 minggu melaksanakan WFH (work from home). Sebagai guru yang selalu aktif bermain di kelas bahkan lapangan sekolah, WFH ini sebenarnya cukup menyiksa.Read More →

Memiliki mainan bagi anak-anak adalah wajib. Sama wajibnya seperti memiliki buku cerita menarik. Tapi bagaimana mendapatkan mainan yang sekaligus mengembangkan beberapa hal penting dan bukan hanya sekedar ‘fun’? Kalau beli, seringkali harganya sangat mahal… Aku mendapat ide dari permainan yang dulu sewaktu kecil sering kumainkan, kemudian mencoba membuatnya sendiri. Membuat permainan Ular Tangga. Tapi ular tangga yang kubuat sedikit berbeda karena angka ditulis dari atas ke bawah, permainan Ular Tangga ini kemudian diubah namanya menjadi Perosotan Tangga. Dadu dibuat dengan menggunakan kemasan biskuit bekas yang berbentuk kubus dan di setiap sisinya bergambar biskuit sejumlah 1-6. Permainan ini cukup banyak membantu perkembangan pada anak, khususnya usiaRead More →

Raynar aka Nenang, sangat suka Dinosaurus. Hal ini bermula ketika liburan pulang kampung ke Jogja 2017 lalu. Aku mengajaknya masuk ke wahana Dinosaurus di Taman Pintar. Sejak saat itu, segala sesuatu seringkali dihubungkan dengan Dinosaurus. Minatnya terhadap Dinosaurus yang semakin kuat, membuatku juga jadi senang membeli banyak buku cerita anak untuk Raynar bertema Dinosaurus, meminjam buku dari perpustakaan tetang Dinosaurus, membeli mainan miniatur Dinosaurus, mengajaknya berkarya membuat Dinosaurus, hingga bermain dramatisasi Dinosaurus. Raynar dan Babah di Taman Pintar Jogja Seperti biasanya, buku untukku adalah media paling mudah untuk memulai segala hal. Mengajak Raynar bermain dengan Dinosaurus tentu perlu mengajaknya terlebih dulu ‘belajar’ mengenai apa DinosaurusRead More →

[et_pb_section admin_label=”section”][et_pb_row admin_label=”row”][et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text” background_layout=”light” text_orientation=”left” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid”] Di usia 5-6 tahun, anak-anak sudah sewajarnya memiliki kemampuan dasar belajar untuk dapat membaca dan menulis. Bukan berarti pasti sudah bisa membaca dan menulis secara teknis, namun persiapan menuju baca-tulis teknis harus sudah dimilikinya. Seperti persepsinya terhadap bentuk-bentuk, konsep posisi kanan dan kiri, kesiapan motorik (motorik kasar dan motorik halus), serta tentu saja minat dan motivasinya untuk dapat membaca menulis sendiri. [/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][et_pb_row admin_label=”Row”][et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text” background_layout=”light” text_orientation=”left” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid”] Minat serta motivasi anak-anak untuk mulai membaca dan menulis tentunya perlu dibangun dengan cara yang menarik dan tentunya menyenangkan. Bukan hanya meminta anak menuliskan kembaliRead More →

[et_pb_section admin_label=”section”][et_pb_row admin_label=”row”][et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text” background_layout=”light” text_orientation=”left” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid”] Pada kegiatan PLPG yang lalu, aku membuat bigbook sebagai media pembelajaran. Ide pembuatan bigbook itu muncul karena sebelumnya aku pernah membuat buku sejenis. Aku dan beberapa teman membuat sendiri sebuah buku berukuran besar bertema pertemanan. Buku ini menceritakan tentang sifat-sifat baik seorang teman yang disukai. Aku membuatnya menjadi semacam cerita fabel dengan tokoh-tokoh cerita binatang-binatang hutan. Ceritanya yang sederhana dan pendek, diharapkan dapat mudah dimengerti oleh anak-anak ketika dibacakan. Dan bisa dibaca sendiri oleh anak-anak yang baru saja bisa membaca cerita. Pembuatan buku ini diawali dengan membuat mindmap agar dapat mempermudah memetakan jalan cerita danRead More →

Selama 12 hari, aku mengikuti masa karantina dalam program pendidikan dan latihan profesi guru. Program ini biasa dikenal dengan PLPG. Selama 12 hari itu, aku banyak belajar dan mendalami ilmu pedagogik dan pendalaman ilmu pendidikan anak usia dini. Selain itu, aku juga mengikuti beberapa workshop untuk mengembangkan keterampilan dalam mengajar anak-anak di sekolah. Salah satu workshop yang menjadi favoritku adalah pembuatan media untuk kegiatan pembelajaran. Di sini, semua guru dituntut untuk berpikir kreatif tapi juga bekerja efektif. Bagaimana caranya setiap guru dapat membuat dua media pembelajaran tapi dalam waktu singkat. Kira-kira waktu yang disediakan di kelas hanya sekitar 8 jam, kecuali jika guru-guru rela untukRead More →

Pernah merasa sulit mengenalkan lambang bilangan pada anak-anak? Aku pernah mengajak anak-anak membuat sebuah karya sederhana. Membuat wayang. Tapi wayang ini tidak seperti wayang yang sudah pernah dibuat sebelumnya. Wayang ini mengajak anak-anak untuk berimajinasi dan mengenal lambang bilangan. Aku menuliskan bilangan dari 0 sampai 9 yang kemudian dipilih oleh anak-anak. Lalu mereka berimajinasi bilangan tersebut berubah menjadi binatang. Dari lambang bilangan itu anak-anak mengubah bentuknya dengan menggambarnya menjadi binatang. Lucu-lucu. Ada yang mengubah 7 menjadi seekor jerapah pelangi… Setelah selesai menggambar dan mewarnainya, mereka kemudian menggunting binatangnya. Lalu, binatang-binatang itu ditempelkan pada batang pensil. Spontan anak-anak menggunakan wayangnya untuk berdramatisasi. Mereka melakukan percakapan sesamaRead More →

[et_pb_section admin_label=”section”][et_pb_row admin_label=”row”][et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text” background_layout=”light” text_orientation=”left” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid”] Salah satu kompetensi kognitif yang perlu dimiliki oleh anak usia 5-6 tahun adalah kemampuannya dalam menggunakan angka dan berhitung sederhana. Namun hal ini memerlukan bantuan benda atau objek konkrit yang melambangkan jumlah dari angka serta membantunya dalam berhitung. Karena tahapan belajar anak-anak usia 5-6 tahun masih konkrit operasional (masih sangat membutuhkan benda konkrit serta pengalaman langsung ketika mempelajari suatu hal). Orangtua yang memiliki anak usia SD pasti sering merasa kesulitan mengajak anak belajar matematika meskipun soalnya sederhana. Karena pikiran abstrak orangtua yang sudah berkembang jauh berbeda dengan anak-anak yang masih berpikir konkrit. Apalagi jika mengajakRead More →

[et_pb_section admin_label=”section”][et_pb_row admin_label=”row”][et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text” background_layout=”light” text_orientation=”left” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid”] Aku suka mengoleksi buku. Tentu saja untuk dibaca. Aku pasti butuh benda kecil untuk dijadikan pembatas buku. Aku tidak pernah membeli pembatas buku, karena menurutku meskipun aku butuh tapi aku tidak perlu membelinya. Sejak dulu aku menggunakan apa pun untuk dijadikan sebagai pembatas buku ketika membaca. Bahkan aku pernah memakai lembaran uang sebagai pembatas halaman buku yang sedang kubaca. Tapi kemudian aku memanfaatkan beberapa barang bekas atau sisa untuk dijadikan pembatas buku. Mulai dari potongan pita yang diikat di kartu pos yang tidak pernah dipakai, hingga akhirnya mencoba membuat gambar yang dilaminating dan diikat denganRead More →

[et_pb_section admin_label=”section”][et_pb_row admin_label=”row”][et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text” background_layout=”light” text_orientation=”left” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid”] Sudah lama aku tidak liburan dalam jarak jauh. Beberapa tahun belakangan ini pergi keluar kota, keluar pulau, atau keluar negeri hanya karena tugas. Apalagi sejak hamil dan punya Raynar, aku benar-benar nyaris tidak pernah keluar kota. Kecuali kalau Bandung-Cimahi dihitung sebagai perjalanan luar kota. Lalu aku dan Babah pun mulai merencanakan liburan, mungkin lebih tepatnya disebut sebagai pulang kampung, ke Yogya. Dulu aku yang bisa sampai dua atau tiga kali setahun berkunjung ke Yogya, sekarang malah tidak pernah pulang sampai tiga tahun. Duh. Hal yang pertama kami pikirkan adalah harus membawa kamera sebagai sarana mendokumentasikanRead More →