“Tidak ada makanan gagal di Jepang.” Kalimat ini spontan kuucapkan setelah mencicipi beberapa street food di Jepang. Tepatnya, saat malam pertama aku menginjakkan kaki di Osaka. Sesampainya di hotel, setelah istirahat sejenak meluruskan badan dan mandi, aku dan beberapa teman berjalan menuju Dotonbori Street, Osaka. Kabarnya di sepanjang jalan itu banyak sekali kedai jajanan yang terkenal enak. Tapi karena aku telat makan siang, tentu saja aku dan teman-teman langsung mencari rumah makan untuk makan berat sebelum mencicipi cemilan khas Jepang. Berbekal petunjuk Google Map, kami berjalan menuju Naritaya Halal Ramen. Tempat ini memiliki nama yang sama dengan kedai ramen yang tahun lalu kucoba di daerahRead More →

Di awal pernikahan, aku dan suami sempat mengalami long distance marriage meski tidak terlalu lama. Aku dan suami memang bersepakat, jika kami sudah menikah, kami harus bersama. Apalagi jika sudah memiliki anak. Saat itu, suami yang bekerja di Jakarta mengusahakan agar dapat dipindah ke Bandung meski dengan upah yang menyesuaikan dengan standar di Bandung. Selama 6 tahun usia pernikahan, kami bersama di satu kota. Meski seringkali kami berpisah karena tugas atau karena aku menjalani me time. Paling lama kami berpisah sekitar 2 minggu ketika aku atau suami mendapat tugas kantor keluar kota. Dan akhirnya, sebulan lalu suamiku mendapat keputusan pindah tugas dan harus kembali stayRead More →

Ketika memutuskan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, yang pertama dipikirkan pastinya adalah kehalalan makanannya. Itu pun yang aku pikirkan saat akan melakukan perjalanan ke Tokyo karena aku memang agak sulit kalau kelaparan. Hehe… Di Tokyo sebenarnya sudah cukup banyak makanan dan tempat makan yang halal baik yang sudah tersertifikasi maupun yang belum. Karena di Jepang, pengurusan sertifikat halal kabarnya cukup sulit dengan langkah yang cukup panjang. Karena itu, selain mencari tempat makan halal, aku pun membawa beberapa bekal makanan yang bisa kusimpan di hotel atau dibawa di dalam tas selama perjalanan. Seperti biskuit, cereal, susu, minuman coklat, dan kopi.  Hal ini penting untuk mengantisipasiRead More →

Sudah lama aku tidak pulang kampung. Sejak awal menikah, akhirnya kembali pulang ke kampung halaman setelah anak sudah 1.5 tahun usianya. Rencana ini sekaligus liburan kami bertiga dan lanjutan stimulasi eksplorasi serta menambah wawasan Raynar mengenai hal baru. Raynar yang sudah semakin banyak berkomunikasi, bertanya mengenai ini dan itu, serta mulai mempunyai banyak hal favorit, tentunya sudah harus semakin difasilitasi. Jadi, pulang kampung, liburan, serta stimulasi dilakukan sekaligus. Aku lahir di Jogja, meski tidak besar di Jogja. Tapi Jogja adalah salah satu destinasi wisata favorit kami (dan pastinya semua orang). Apalagi semakin hari, tujuan wisata di Jogja semakin berkembang banyak. Kampung wisata baru banyak bermunculan.Read More →

Sejak hadirnya Raynar di antara aku dan Babah, kami rasanya agak sulit untuk bepergian dengan jarak jauh. Kesulitannya lebih banyak karena kecemasan kami sendiri kurasa. Waktu Raynar masih bayi, ingin rasanya mengajak dia menengok eyang-eyangnya di Kediri Jawa Timur, tapi kami kemudian memikirkan transportasi yang akan dipilih. Naik mobil sudah jelas tidak akan jadi pilihan. Raynar yang masih bayi perlu lebih dari sekedar Bubunya yang mengasuh selama perjalanan. Naik kereta akan menghabiskan waktu kurang lebih 17 jam dan membayangkannya saja kami tidak sanggup. Naik pesawat tidak bisa langsung mendarat di depan rumah eyang, jarak dari bandara Juanda sampai Kediri cukup jauh dan belum dibayangkan macetnyaRead More →