Familycation : Liburan dan Stimulasi

Sejak hadirnya Raynar di antara aku dan Babah, kami rasanya agak sulit untuk bepergian dengan jarak jauh. Kesulitannya lebih banyak karena kecemasan kami sendiri kurasa. Waktu Raynar masih bayi, ingin rasanya mengajak dia menengok eyang-eyangnya di Kediri Jawa Timur, tapi kami kemudian memikirkan transportasi yang akan dipilih. Naik mobil sudah jelas tidak akan jadi pilihan. Raynar yang masih bayi perlu lebih dari sekedar Bubunya yang mengasuh selama perjalanan. Naik kereta akan menghabiskan waktu kurang lebih 17 jam dan membayangkannya saja kami tidak sanggup. Naik pesawat tidak bisa langsung mendarat di depan rumah eyang, jarak dari bandara Juanda sampai Kediri cukup jauh dan belum dibayangkan macetnya saja kami sudah malas. Ketidaksanggupan dan kemalasan kami akhirnya membuat kami memutuskan untuk mengajak Raynar berlatih melakukan perjalanan sedikit demi sedikit.

Jarak rumah orangtuaku dengan rumah orang tua Babah cukup jauh. Bisa dibilang perjalanan yang ditempuh adalah perjalanan luar kota. Dari pinggiran kota Cimahi Kabupaten Bandung Barat, hingga ke area Banduung Timur. Aku dan Babah mengajak Raynar menempuh perjalanan tersebut dengan berganti-ganti alat transportasi. Mobil dan motor sudah sering kami coba, lalu kami pun mengajak Raynar pergi dengan mengendarai bis kota dan juga kereta api. Setelah dirasa cukup aman, aku mengajak Babah untuk melakukan perjalanan dekat lain dengan tantangan macet. Pilihan tujuannya adalah Lembang. Kami merencanakan untuk menginap semalam di Lembang. Lembang adalah liburan kami yang pertama sejak punya Raynar. Dulu, Raynar baru akan menjelang 6 bulan, dia baru belajar merangkak.

Danau di Sapu Lidi Resort

Selanjutnya, aku dan Babah terus mengajak Raynar berlatih melakukan perjalanan macet. Memang, tiap kali membahas tentang rencana perjalanan jauh, kami menunjukkan kecemasan. Latihan ini memang bukan hanya untuk Raynar, tapi juga untuk Bubu dan Babahnya supaya bisa lebih sabar di perjalanan.

Sekitar tiga bulan lalu, aku sekeluarga mendapat kesempatan untuk pergi ke Kampung Sumber Alam Garut secara gratis. Yeeeaaayyy… kami antusias, karena ini bisa jadi salah satu latihan perjalanan lebih jauh kami lagi. Tapi ternyata, karena tidak macet, perjalanan pun hanya ditempuh dalam waktu kira-kira satu jam Bandung-Garut, sama seperti perjalanan di dalam kota Bandung. Bukan latihan perjalanan jauh. Ah tapi yang penting kami berlibur gratis!

Raynar suka air. Dia juga suka dengan suasana baru. Jadi, pergi-pergi ke tempat baru cukup menarik perhatiannya. Raynar cukup banyak menemukan objek yang sudah dikenalinya dan dia terus menyebutkan nama-namanya. Hal ini juga menjadi stimulus bahasa untuknya.

Raynar mengamati ikan.

Liburan keluarga bagi kami adalah menjadi salah satu stimulus bagi banyak tugas perkembangan Raynar. Dia harus mau jalan dalam jarak yang cukup jauh untuk meningkatkan kemampuan motorik kasarnya, melihat banyak hal baru untuk memperluas perbendaharaan kosakatanya, merasakan banyak tekstur untuk mengolah sensorinya, dan masih banyak hal yang bisa dikembangkan dari acara liburan keluarga.

Eksplorasi payung. Karena hari hujan, Raynar bermain dengan payung.

 

Raynar mulai minta gendong saat lewat jembatan kayu.

Selain melakukan eksplorasi banyak hal, Raynar juga mencoba berenang di kolam yang lebih besar. Ditemani Babah tentunya. Bubunya berenang sendiri karena memang butuh untuk pengobatan tulang belakang yang sering terasa pegal-pegal.

Sejak Raynar usia 8-9 bulan, aku mulai coba mengenalkan metode BLW saat makan. Sekarang, dia cukup sering meminta makan sendiri sejak usia setahun. Bahkan sejak sudah mulai bisa mengungkapkan keinginannya, Raynar selalu berkata, “Endiyi…” (red : sendiri) jika dia meminta untuk makan sendiri. Saat kami melakukan perjalanan pulang kembali ke Bandung, kami mampir untuk makan siang di Rumah Makan Asep Strawberry. Di sana Raynar benar-benar ingin makan sendiri. Dari proses makan sendiri, aku bisa mengamati perkembangan kemampuan motorik halusnya ketika melakukan tuang dan tumpah air dari satu wadah ke wadah lainnya. Raynar pun memindahkan beberapa potong buah dari piring dan memasukkannya ke dalam gelas dengan menggunakan sendok. Aku melihat kemampuan pergelangan tangannya saat menggerakkan sendok, mengambil buah, dan memasukkannya ke dalam gelas.

Jadi, semua kegiatan keseharian yang kita lakukan sebenarnya bisa membantu banyak perkembangan anak. Hanya saja masih banyak orang yang beranggapan stimulasi perkembangan butuh mainan-mainan khusus, kegiatan yang direncanakan oleh para ahli pendidikan anak, dan sebagainya. Aku pun pernah bertanya pada seorang psikolog, “Baiknya mainan dan kegiatan apa lagi yang bisa aku lakukan sama Raynar untuk memberi stimulasi sensorinya?” Jawabannya hanya, “Biarkan anak mencoba melakukan kebutuhannya sendiri, itu sudah jadi stimulasi.”

Kesimpulannya, anak yang bisa berkembang baik adalah anak yang diberi kepercayaan bahwa dia bisa melakukan banyak hal sendiri. Aku pun mulai mencoba mengurangi kecemasan untuk pergi jarak jauh dengan Raynar. Karena dia pasti mampu.

 


Leave a Reply