Hey, Let’s Read!

21 1

Sejak kecil, budaya membaca rasanya sudah tertanam dalam keluargaku. Di saat semua teman-temanku memiliki banyak sekali berbagai permainan elektronik, orangtuaku selalu memberi apresiasi dalam bentuk buku. Lama-kelamaan membaca yang memang dibiasakan menjadi hobi hingga kini.

Aku merasakan banyak sekali manfaat membaca dalam kehidupan. Bahkan untuk sekedar mengisi waktu ketika menunggu agar tidak salah tingkah misalnya. Karena manfaat yang sangat banyak, maka tentunya aku ingin membangun budaya tersebut juga pada keluargaku sendiri, terutama pada anakku.

Sejak dalam kandungan, aku kerap membacakan buku secara nyaring pada anakku. Meskipun saat itu aku sedang membaca novel. Aku pun membacakan banyak buku-buku anak yang sudah kukoleksi sejak aku baru mulai bekerja. Karena aku yakin dengan penelitian yang menyebutkan bahwa, janin di dalam kandungan memiliki kemampuan mendengar yang lebih dulu dibandingkan dengan kemampuan indera lainnya. Sehingga membacakan cerita, mengajaknya berkomunikasi, bernyanyi, dan juga mengaji dapat membantu perkembangan bahasa anak di kemudian hari.

Ketika anakku lahir, mainan pertama yang jelas tersedia adalah buku. Buku yang terbuat dari kain yang pasti aman jika masuk ke dalam mulut untuk ‘dibaca’. Awalnya, aku tidak memiliki buku berbahan keras (boardbook), namun ketika sudah mempunyai anak, kesadaran akan fungsi dari boardbook mulai muncul. Anak usia sangat dini dengan kemampuan tangan yang belum dapat membolak-balikkan halaman tentunya akan sangat terbantu dengan halaman buku yang cukup tebal.

Buku berbahan kain
Membaca gambar dari boardbook

Sebelum mengajak anakku menjelajah dunia yang sebenarnya, aku banyak mengajaknya menjelajah dunia melalui buku. Karena buku adalah jendela dunia, benar adanya. Anakku belajar mengenai banyak hal yang ada di lingkungan sekitarnya, berawal dari buku. Mengenali berbagai objek-objek baru yang mungkin akan sulit dijumpainya sehari-hari pun dari buku. Wawasannya semakin berkembang dengan membaca buku. Hingga akhirnya semakin bertambahnya usia, ia bisa mengatakan bahwa hobinya adalah membaca buku. Ia mulai mengatakannya saat usianya baru saja 4 tahun.

Mulai memasuki usia prasekolah, kebiasaan membaca buku semakin terbangun menjadi suatu budaya. Anakku mulai semakin rutin meminta sendiri dibacakan buku cerita, berpura-pura membaca, bahkan membacakan kembali cerita yang sudah pernah kubacakan sebelumnya. Ia kerap meminta dibacakan ulang buku-buku favoritnya dan juga meminta dibacakan buku-buku baru atau buku yang dipinjam dari perpustakaan.

Setiap kali aku dan keluargaku pergi mengunjungi suatu tempat, toko buku atau perpustakaan umum menjadi salah satu tujuan yang wajib dikunjungi. Hal ini lama kelamaan memang sudah menjadi suatu kebiasaan dan kami menikmatinya. Membaca buku dan tenggelam dalam cerita di dalamnya.

Aku semakin merasakan manfaat membacakan buku pada anak. Perkembangan bahasa yang dicapainya sudah sesuai dengan usianya. Kosakatanya luas dan kemampuannya dalam bertanya terkadang membuat takjub, bahkan seringkali aku harus kembali membaca buku untuk mencari jawabannya. Wawasannya mengenai berbagai hal semakin berkembang meski terhadap hal asing yang jauh dari kesehariannya. Aku semakin yakin bahwa buku tak pernah salah.

Tapi, apakah kegiatan membaca buku hanya sampai di situ saja? Bagi aku dan anakku, tentu saja tidak. Kami kerap membuat banyak pengembangan kegiatan setelah melakukan kegiatan bercerita. Dari membuat kelanjutan cerita yang berbeda, membuat tebak tokoh atau tebak kata, bahkan hingga membuat karya berdasarkan cerita buku yang telah dibaca.

Membuat Dinosaurus lego seperti di buku.

Aku pada dasarnya lebih banyak menikmati buku cetak yang bisa disentuh setiap lembarnya, dicium aroma kertasnya, dan aku begitu menikmati menyimpan berbagai pembatas buku unik di sela lembarannya. Namun semakin canggihnya teknologi, kini aku pun menggunakan buku-buku digital dari aplikasi Let’s Read untuk sesi membaca bersama anak di rumah, apalagi ketika stok buku anak sudah semuanya dibaca dan kondisi agak sulit untuk pergi ke perpustakaan. Cerita-cerita di dalamnya sangat dekat dengan anak-anak, dengan ilustrasi yang menarik, imajinasi seru, bahkan banyak cerita yang juga disajikan dalam bahasa daerah. Saat bepergian, menggunakan aplikasi Let’s Read dalam genggaman sangat membantu mengatasi kebosanan ketika harus menunggu atau berada dalam kemacetan bersama anak.

Aplikasi Let’s Read

Jadi, tak pernah ada alasan untuk tidak membacakan buku pada anak. Buku cetak atau buku digital memberikan banyak sekali manfaat bagi perkembangan bahasa dan wawasan anak. Dengan segala kemudahan yang semakin tersedia, membaca buku bisa dimana saja dan kapan saja. “Hey Raynar, let’s read your books!”

1 comment

  1. Seru banget ya aplikasinya, jadi solusi menyediakan bahan bacaan untuk anak

Leave a Reply