Langit, Langkah, dan Sebuah Kontemplasi Diri

Aku pecinta langit biru. Kemana pun langkah ini pergi, langit biru akan selalu kuburu. Perjalanan random menjelang akhir tahun lalu adalah salah satu pemburuan langit biruku. Ketika aku melihat langit, saat itu pula aku melakukan kontemplasi diri dan hati.

Jepang, khususnya Tokyo adalah destinasi yang kuputuskan berdasarkan perasaan. Kamu pergi, aku pergi. Tidak ada urusan lain. Yang penting aku bisaΒ mau pergi. Dan keputusanku ini membuatku kemudian banyak berpikir dan yakin. Jepang adalah negara yang sudah sering membuatku patah hati sejak awal tahun 2000-an. Aku begitu banyak mengirimkan impian dan harapan ke sana, namun sering kali tak kunjung berbalas. Semua orang pasti punya negara impian untuk dikunjungi, bukan? Jepang adalah salah satu negara impianku. Ingin rasanya (dulu) bisa merasakan menjadi mahasiswa di sana dengan beasiswa. Namun apa daya, mungkin otakku belum bisa sampai sana. Cita-citaku mungkin ‘terlalu’ tinggi jika dibandingkan dengan usahaku saat itu, tapi aku tidak mau sekedar menggantungkannya di atas pohon. Aku menggantungkannya di atas langit Jepang. Suatu saat aku pasti datang entah bagaimana caranya.

Setelah sekian tahun lamanya, impianku tercapai. Membalas rasa patah hatiku saat itu, aku datang ke Jepang. Dengan satu tujuan, melihat Jepang dan langitnya. Aku mungkin aneh. Tidak seperti kebanyakan orang lain yang ingin pergi ke suatu negara untuk berburu barang tertentu, misalnya. Aku hanya ingin menikmati diri. Bersyukur atas segala yang terjadi dalam hidup. Terkadang, aku merasa semua klise. Tapi setelah melaluinya, banyak hal yang kusadari dari diri. Aku semakin berani memutuskan hal yang berada di luar zona nyaman diri. Meskipun selangkah kecil.

Β 

Langit biru Tokyo

Jepang dengan segala kesibukannya menjadikan diri ini kecil. Jelas saja aku patah hati berulang kali dulu. Apa yang kulakukan tidak sebanding dengan hal yang ingin kucapai. Rasa syukurku pun begitu dangkal. Ketika Jepang terus berlari, aku mengejarnya dengan langkah kecil.

Selain cerita patah hatiku pada Jepang, aku menemukan banyak hal yang menjadi renungan. Bahkan lebih luas. Saat memandang langit biru di sana, aku kemudian merunut segala hal yang berhasil kucapai, kecil, besar, lalu kusyukuri. Tentang diri, keluarga, lingkaran pengaruh, dan tentu saja Tuhan. Sebenarnya, ngapain juga jauh-jauh ke Jepang hanya untuk bersyukur? Banyak hal yang tidak mungkin orang lain pahami, tidak ada logikanya, karena aku berpikir menggunakan hati.

Setelah melihat langit di atas, aku lalu menunduk ke bawah. Seringkali aku merekam jejak langkahku sendiri. Hanya sekedar untuk memikirkan, kemana selanjutnya langkah kaki ini akan membawaku pergi. Jalan mana yang kupilih, sendiri atau bersama.

Saat sendiri, banyak hal yang kemudian membuat aku tenggelam dalam diri. Ada masanya dalam hidup dimana aku merasa terpuruk dan tidak berguna. Rasanya ingin menghela nafas berulang-ulang untuk melepas semua beban. Namun ada kalanya juga keberuntungan seolah-olah banyak terus menghampiri dan tak henti membuat tersenyum. Semua hanyalah perkara masih bodohnya aku dalam bersyukur. Keimanan yang masih dangkal untuk percaya bahwa semua di dunia ini telah memiliki porsi rejekinya masing-masing dalam kuasa Tuhan. Aku perlu banyak terus belajar, bersyukur, dan terus menatap sekitar. Bahwa sangat banyak keberuntungan diri yang tidak perlu disandingkan dengan keberuntungan milik orang lain. Aku hanya perlu terus menatap langit biru dan memperhatikan langkah.


2 Comments

  • Aisya Yuhanida Noor

    February 10, 2019

    Sangat deskriptif dan indrawi, bikin yang baca ikut larut dalam perjalanan internal dirimu😍

    Reply
    • hotarukika

      February 11, 2019

      makasih udah mampir buuuu…

      Reply

Leave a Reply