Liburan Pulang Kampung

Sudah lama aku tidak pulang kampung. Sejak awal menikah, akhirnya kembali pulang ke kampung halaman setelah anak sudah 1.5 tahun usianya. Rencana ini sekaligus liburan kami bertiga dan lanjutan stimulasi eksplorasi serta menambah wawasan Raynar mengenai hal baru. Raynar yang sudah semakin banyak berkomunikasi, bertanya mengenai ini dan itu, serta mulai mempunyai banyak hal favorit, tentunya sudah harus semakin difasilitasi. Jadi, pulang kampung, liburan, serta stimulasi dilakukan sekaligus.

Aku lahir di Jogja, meski tidak besar di Jogja. Tapi Jogja adalah salah satu destinasi wisata favorit kami (dan pastinya semua orang). Apalagi semakin hari, tujuan wisata di Jogja semakin berkembang banyak. Kampung wisata baru banyak bermunculan. Kali ini, aku tidak banyak mengunjungi tempat wisata baru, selama 4 hari mengunjungi Jogja, hanya satu tempat wisata yang kami kunjungi tiap harinya karena kami juga mengunjungi saudara di sana. Selain mengunjungi saudara, kami pun berkunjung ke teman lama yang tinggal di Jogja.

Hari pertama, aku mengajak Raynar untuk main di Taman Pintar. Banyak hal yang dapat dieksplorasi di sana. Raynar pun mengamati banyak hal. Kegiatan pertama, kami mengunjungi planetarium. Untukku pun ini pertama kalinya meski sudah beberapa kali mengunjungi Taman Pintar. Di sana, kami masuk ke dalam kubah dan menonton film tentang planet, bintang, meteor, dan pergantian siang malam di langit-langit kubah. Awalnya kupikir Raynar akan takut pada gelap, tapi ternyata dia cukup menikmatinya.

Kami di dalam planetarium sebelum pertunjukan dimulai.

Selanjutnya, kami masuk ke gedung utama Taman Pintar. Di sana banyak sekali pengetahuan yang bisa didapat meski untuk anak seusia Raynar yang waktu itu masih 1,5 tahun. Menurutku, itu semua bagaimana kita sebagai orangtua memfasilitasi, menjawab, dan menjelaskan secara sederhana segala hal yang ada di dalam sana.

Ketika baru saja masuk, kami disambut oleh patung-patung dinosaurus berukuran besar. Raynar sempat menunjukkan rasa takutnya dan langsung minta digendong. Tapi ternyata, bertemu dengan dinosaurus ini adalah awal mula dia kini sangat dinosaurus. Apa-apa harus dinosaurus.

Selanjutnya, kami mengeksplorasi beberapa percobaan ilmiah. Meski Raynar belum paham, tapi dia menunjukkan ketertarikannya. Segala bentuk percobaan ia coba, sampai beberapa kali ada perasaan khawatir Raynar terlalu keras atau cepat saat mengeksplorasi.

 

Selain percobaan sains, Raynar mencoba bermain alat musik tradisional. Dia terlihat ‘asal’ menabuh, tapi karena latar musiknya adalah musik gamelan, Raynar terdengar seperti benar-benar main gamelan.

Raynar juga berkenalan dengan Sahabat Pemberani, tokoh-tokoh dari cerita anak KPK. Supaya nanti besarnya jadi generasi antikorupsi.

Sepulang dari Taman Pintar, Raynar berkenalan dengan delman. Angin semilir membuat Raynar yang sudah lelah keliling-keliling taman mulai ngantuk 😉 Malam harinya, Raynar kami ajak makan di angkringan Malioboro. Dia dihitung makan 2 porsi ;))

   

Hari selanjutnya, kami hanya pergi mengunjungi Taman Sari. Mengingat cahaya di sana bagus di pagi hari, kami datang ke lokasi bahkan sebelum loket tiket buka melayani pengunjung. Kami tidak lama di Taman Sari, karena kami datang di hari Jumat dan babah harus Jumatan.

Duh, cantiknya peninggalan sejarah ini. Raynar belum juga paham sebenarnya diajak ke sini, tapi berjalan jauh, naik turun tangga, dan lari-lari di tempat yang cukup luas, cukup banyak melatih motorik kasarnya. Tapi karena sangat jauh kami harus berjalan, seringkali Raynar minta digendong. Aku dan babah kemudian bergantian untuk menggendong Raynar. Sepulang dari Taman Sari, Raynar sudah lelah. Kami mampir ke rumah budhe (kakak ibuku) dan dia sudah tepar ;))

Malam harinya, perjalanan dilanjutkan. Mengunjungi (atau tepatnya janjian) seorang teman lama. Kami bertemu di sebuah rumah makan masakan India. Kemudian aku berencana jalan-jalan di Taman Lampion di halaman Monumen Jogja Kembali (Monjali). Taman Lampion itu baru dibuka untuk dikunjumgi pada sore menjelang malam hari. Karena itu aku butuh Raynar yang on di malam hari. Saat makan malam, aku memberi Raynar cokelat supaya ada asupan gula yang membuatnya aktif di malam hari. Dan berhasil ;D Sepanjang perjalanan mengelilingi Taman Lampion, Raynar sama sekali tidak minta digendong.

Di sini, aku seperti melakukan percobaan sederhana. Ketika banyak larangan memberi anak cokelat di sore menjelang malam dengan alasan agar si anak tidak semakin ‘muter’ di waktu seharusnya dia istirahat, aku malah sebaliknya, memberi Raynar cokelat dengan tujuan memberinya tenaga untuk jalan kaki jarak jauh sendiri di malam hari. Mungkin tips ini bisa dicoba saat kita memang perlu pergi di malam hari bersama anak. Asal tidak terlalu sering ya…

Hari selanjutnya adalah hari belanja. Hari dimana kami belanja barang titipan dan oleh-oleh ketika liburan. Hari ini bukan hari terakhir kami di Jogja, tapi kami memilih untuk berbelanja barang di hari ini agar jika ada yang tertinggal masih ada waktu untuk membelinya. Hari terakhir kami pakai untuk membeli oleh-oleh berupa makanan. Tantangan berbelanja dengan membawa anak 1,5 tahun yang sudah bisa berbicara dan punya minatnya sendiri adalah dia mulai bisa minta untuk dibelikan banyak mainan. Kadang, tidak sadar juga mainan yang dia inginkan sudah masuk kantong belanja.

Di hari ini, aku juga mengunjungi seorang teman lama. Perjalanan mencari alamat di daerah yang tidak terlalu kami kenal cukup menantang dengan membawa anak kecil. Udara yang panas juga membuat kami terdampar di kantor RW untuk beristirahat jalan kaki.

  

Hari terakhir kami di Jogja, saudara sepupuku mengajak kami ke pantai terdekat. Bukan pantai terindah, tapi pantai ini cukup punya banyak kenangan untukku dan semua sepupuku. Untuk Raynar, ini adalah pantai pertamanya, setelah sebelumnya ia pernah bermain pasir pantai di kolam renang. Raynar terlihat lebih menikmati bermain dengan pasir dan membenamkan dirinya di pasir. Ia masih tampak agak takut dengan ombak yang menarik kakinya masuk ke pasir.

 

Di pantai, sesekali aku dan babah membuat foto-foto kami bertiga, berdua, atau hanya sekedar foto pemandangan.

    

Malam harinya, kami pulang kembali ke Bandung dengan kereta. Perjalanan dengan kereta sudah dirindukan Raynar. Tiap kali pergi dan melihat kereta, Raynar selalu berteriak seakan-akan memanggil kereta yang lewat. Setelah perjalanan liburan pulang kampung ke Jogja, kami merencanakan perjalanan pulang kampung kembali ke Kediri Jawa Timur. Kira-kira, pengalaman baru apa yang bisa Raynar dapatkan nanti ya?


2 Comments

Leave a Reply