Makna Berkarya Bagi Anak Usia Dini

Sekolah bagi anak usia dini, bermain adalah belajar, menyimak cerita adalah membaca, berkarya adalah menulis. Makna dari berkarya menurut KBBI adalah mencipta, baik dalam bentuk tulisan / karangan, lukisan, dan bentuk lainnya. Dan apakah tujuan anak usia dini berkarya adalah untuk membentuknya menjadi seniman di kemudian hari? Jadi, apakah sesungguhnya makna berkarya bagi anak usia dini?

Keterampilan yang dibutuhkan di abad 21 ini semakin luas dan bukan terbatas hanya pada kemampuan membaca dan berhitung secara teknis yang dijadikan dasar. Keterampilan abad 21 yang dibutuhkan terbagi menjadi 3 bagian yaitu literasi dasar, kompetensi, dan karakter. Dalam bahasa kurikulum, hal tersebut lebih dikenal dengan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku.

Kemampuan literasi merupakan salah satu dasar dari keterampilan yang perlu dimiliki di abad 21 ini. Jika dijabarkan, kemampuan literasi yang lebih dibutuhkan adalah sesuatu yang lebih dari sekedar bisa membaca atau berhitung. Pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk meningkatkan kualitas hidup, mematangkan keterampilan dan memperlancar dalam membangun komunikasi dengan dunia sosial. Literasi tersebut dapat disebut dengan literasi dasar (foundational literacies) yaitu kemampuan anak dalam mengaplikasikan keterampilan dasarnya dalam menyelesaikan tugas atau permasalahan sehari-hari.

Untuk kompetensi yang perlu dimiliki anak di abad 21 ini adalah kemampuannya dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, kreativitas, berkomunikasi, dan berkolaborasi. Selanjutnya, karakter yang dibutuhkan di abad 21 ini adalah rasa penasaran yang cukup tinggi, memiliki inisiatif, tekun serta gigih (tak mudah menyerah), mudah beradaptasi, memiliki jiwa kepemimpinan, serta memiliki kepekaan sosial. Hal-hal tersebut bisa didapatkan dengan kegiatan berkarya pada anak usia dini sebagai dasar kemampuannya.

Saat berkarya, anak akan menunjukkan kemampuannya dalam pemahaman dan pengungkapan. Dari karyanya, orangtua dan guru dapat melihat pemahaman anak terhadap suatu topik, wawasan, atau pengetahuan yang telah ia dapatkan sebelumnya. Dari karyanya, kita dapat melihat apakah anak memahami suatu konsep dari objek yang dibuat karyanya dan apakah anak mampu menuangkan kembali pemahamannya dalam beragam bentuk karya (visual – gambar, lukisan, kolase, verbal – drama, cerita, lagu dan sajak ciptaan sendiri, gerak – tarian, dramatisasi).

Dalam kegiatan bersama anak, berkarya sama maknanya dengan bermain. Bermain adalah mengajarkan pada anak cara menjadi senang. Jika dalam perasaan senang, anak dapat meningkatkan kemampuan kognitif yang lebih baik (konsentrasi, daya ingat, kreativitas, dan penyelesaian masalah).

Gambar Raynar usia 2 tahun. Ki-ka, Raynar, kucing, dan mobil.

Karya gambar di atas, merupakan hasil dari eksplorasi Raynar saat berusia 2 tahunan. Dia berjalan-jalan keliling komplek, menemukan kucing, dan melihat mobil. Meski antara gambar orang dan kucing terlihat serupa, namun jika diperhatikan Raynar sudah mampu melihat kucing berkaki 4 dengan posisi kaki di bawah, memiliki kumis, dan bertelinga lancip. Berbeda dengan posisi tangan dan kaki pada gambar orang. Raynar juga sudah bisa menangkap informasi bahwa mobil memiliki 4 roda. Karya ini merupakan proses Raynar menuliskan kembali hal-hal yang sudah ‘dibacanya’ melalui kegiatan eksplorasi keliling komplek.

Jika tidak memungkinkan untuk melakukan eksplorasi secara langsung, input apa yang dapat diberikan pada anak?

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengamatan miniatur / mainan serta membaca buku dengan tema yang mendukung.

Raynar membaca buku tentang Dinosaurus serta melakukan pengamatan miniatur Dinosaurus sebelum berkarya membuat Dinosaurus.
Tahapan pertama berkarya membuat Dinosaurus dengan menggunakan mainan balok. Mainan ini sudah memiliki bentuk-bentuk yang baku yang dapat disesuaikan oleh anak untuk membuat bentuk / objek yang diinginkan. Kemampuan anak dalam persepsi bentuk dapat terlihat di sini.
Membuat kolase Dinosaurus dan mencoba membuat sendiri bentuk-bentuk yang diinginkan disesuaikan dengan jenis Dinosaurus yang ingin dibuat. Kegiatan ini merupakan tahapan dalam kemampuan dasar anak sebelum bisa membaca dan menulis. Setelah membuat kolase, anak menambahkan objek lain di sekitar kolasenya seperti rumput, anak Dino, dan telurnya. Hal ini akan mampu membentuk cerita karyanya.
Kolase Dinosaurus yang selanjutnya dibuat menjadi wayang. Anak dapat membuat karya verbal (permainan dramatisasi wayang). Karya dramatisasi ini dapat dianalisa kemampuan anak bercerita, susunan kalimat, perbendaharaan kosa kata, imajinasi, serta pemahamannya dalam menangkap informasi sebelumnya.
Lagu ciptaan sendiri yang menggambarkan wawasan anak mengenai makanan Dinosaurus dan dikolaborasikan dengan imajinasi serta kepekaan anak terhadap Dinosaurus yang salah makan.

Proses belajar anak sebetulnya sederhana. Input, proses, dan output. Namun perlu dilakukan secara berulang serta menyingkirkan ekspektasi orang dewasa dalam prosesnya. Proses belajar anak dapat dijelaskan pada gambar berikut :

Input merupakan tahap ketika anak menerima informasi, kemampuan anak dalam memahami akan memudahkan prosesnya mengolah informasi selanjutnya. Input merupakan hal-hal yang didengar, dilihat, dan diraba / disentuh oleh anak dalam ‘membaca’ informasi yang ada di sekitarnya yang menjelaskan mengenai benda, peristiwa, dan keadaan. Input yang didapatkan oleh anak dapat terjadi secara alamiah atau dengan adanya kesempatan dalam memberikan pengalaman beragam pada anak.

Input yang didapatkan oleh anak kemudian diproses, dicerna, dan kemudian diungkapkan atau diekspresikan dalam berbagai bentuk. Dapat berbentuk gambar, cerita, menuangkannya dalam permainan rancang bangun, dan sebagainya. Hal ini merupakan proses anak dalam ‘menuliskan’ kembali hal yang telah ‘dibacanya’. Feedback atau komentar yang didapatkan oleh anak akan mampu mempengaruhi input yang didapat oleh anak sebelumnya. Akankah mampu memperkaya informasi yang anak dapatkan? Sebagai orangtua dan juga guru, yang terpenting adalah kita perlu berfokus pada proses yang dilalui oleh anak. Proses tersebut mungkin tidak sederhana dan tentunya perlu terjadi pengulangan.

Mengajak anak berkarya di usia dini, bukan berarti mengajaknya menjadi seniman di kemudian hari. Berkarya sama pentingnya bagi manusia dewasa dalam menuliskan kembali hasil belajarnya. Berkarya merupakan proses ‘menulis’ anak setelah ia ‘membaca’. Makna berkarya bagi anak lebih luas daripada hanya sekedar penilaian estetika hasil karya. Dan bukan untuk dinilai bagus atau tidaknya hasil karya secara visual di mata orang dewasa.

Makna berkarya untuk anak usia dini adalah :

  • Sebagai proses belajar dan perkembangan otaknya.
  • Dapat dianalisa perkembangan anak apakah telah sesuai dengan usianya.
  • Dapat dijadikan sebagai sarana dalam pengembangan setiap aspek (sosial emosi, motorik, kognitif, bahasa).
  • Bentuk dari ekspresi diri anak.
  • Memperluas minat dan rasa ingin tahu anak.
  • Membangun kelekatan orangtua / guru dengan anak.

Lalu, bagaimana peran orangtua, guru, atau pendamping anak saat berkarya?

  • Bermain dengan menyenangkan (playful). Lakukan kegiatan dengan permainan, bukan menekan anak untuk selalu bisa dan menguasai sesuatu. Hal ini dilakukan untuk membangun bonding dengan anak dan membuat anak senang melakukan kegiatan.
  • Beri anak kesempatan dan pengalaman yang seluas-luasnya untuk membangun minat dan rasa ingin tahu yang tinggi. Jika pengalaman anak terbatas, maka anak tidak terbiasa mencoba hal baru sehingga membuat minat terbatas dan tidak memiliki rasa penasaran terhadap hal baru. Hal ini tentu harus dihindari bagi anak usia dini.
  • Berfokuslah terhadap proses, bukan pada hasil karya bagus atau tidaknya dalam pandangan orang dewasa. Hindari banyak berkomentar yang menjatuhkan usaha anak dan berusaha membuat bentuknya sempurna, misalnya seperti, “Kenapa gambar kucing kok kayak gitu?” lalu memberinya contoh ‘yang tepat’ menurut orangtua. Sesuaikan dengan tahapan perkembangan anak dan berikan pula tantangan secara bertahap.
  • Komunikasikan perkembangan anak dengan semua pihak yang mendampingi anak. Bentuk support system yang baik dalam mendampingi anak saat berkarya. Pahami tahapan mendampingi anak dengan tidak memberikan banyak bantuan yang tidak perlu, seperti misalnya untuk membuat karya anak tampak sempurna.

Jadi, ketika mendampingi anak, orangtua / guru perlu memberikan stimulasi sesuai dengan tahapan seusianya. Hindari memasukkan ekspektasi orang dewasa terhadap karya anak. Percaya pada anak bahwa dirinya mampu berkarya, beri ia dorongan untuk mampu melakukan sendiri, dan tentunya orangtua / guru perlu bersabar. Berikan feedback dan apresiasi prosesnya, dengan memberi anak pengalaman berhasil melakukan karyanya sendiri pasti akan menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri yang baik.

Siapkah mendampingi anak-anak berkarya agar mereka mampu memiliki keterampilan yang dibutuhkan di abad 21?

Sumber : Parenting bersama Ibu Vanie Marissa, M.Psi, Psikolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *