Merancang Kejutan

10 0

Merayakan ulang tahun, bukan budaya dalam keluargaku sejak dulu. Bahkan aku tidak menganggap usia 17 tahun penting untuk dirayakan saat itu. Kebiasaan itu kemudian terus berlanjut ketika aku sudah berkeluarga, ulang tahun tetap diingat, mengucap doa, dan memberi hadiah meski tidak pernah merayakannya atau membuat kejutan yang sangat terencana.

Sejak awal bulan, aku memberitahu Raynar kalau di akhir bulan Babah berulang tahun. Dan hal itu ternyata membuat Raynar memiliki ide untuk merancang sebuah kejutan ulang tahun untuk Babah. Padahal, di hari ulang tahunnya sendiri pun, kami tidak membuat kejutan apapun. Sejak awal, ia merencanakan ingin memberi Babah hadiah yang memang Babahnya inginkan dan membuat skenario langkah-langkah pemberian kue ulang tahun secara rahasia.

Kejutan diawali dengan Raynar terus menghitung hari menuju hari ulang tahun Babah. Setiap pagi, ia akan bertanya, “Bu, berapa hari lagi Babah ulang tahun?” dan akhirnya kami menghitung hari sekaligus Raynar belajar menghafal urutan hari-hari dalam sepekan. Raynar pun sekaligus belajar mengenai jadwal sekolahnya setiap hari. Akhirnya, ketika dua hari menjelang hari ulang tahun, kami melakukan percakapan di meja makan. Antara aku dan Raynar untuk merencanakan sebuah kejutan kecil ulang tahun untuk Babah, percakapan ini kemudian dilanjutkan secara detil saat menjelang tidur malam.

Raynar : “Bu, besok aku ngobrol-ngobrol sama Babah di telepon, nanti aku pura-pura tanya rasa kue kesukaan Babah ya…” Bubu : “Iya, boleh. Tapi jangan ketahuan kalau kita mau beli kue. Raynar : “Iya, nanti kalau Babah udah jawab, aku kasih tau ke Bubu. Trus Bubu beli ya kuenya yang kesukaan Babah.”

Lalu, dimulailah percakapan antara Raynar dengan Babahnya melalui voice note WA. Namun, karena pada dasarnya anak-anak selalu jujur dan apa adanya, percakapan Raynar tentu saja bukan percakapan rahasia seperti yang direncanakan. Raynar bertanya, “Babah, suka kue rasa apa? Nanti Bubu yang beliin kuenya.” Dari hasil percakapan berbalas voice note, Raynar kemudian mengirimkan voice note, “Bu, katanya Babah sukanya kue donat rasa cokelat.” Kemudian kami pun melanjutkan diskusi mengenai kue yang akan dibeli.

Aku melakukan survey mengenai beberapa jenis kue berbentuk bulat, meski bukan semuanya donat, yang memiliki rasa coklat. Aku kirimkan semua foto-foto kue hasil survey pada Raynar dan ia memilih. Dan akhirnya, Raynar memutuskan untuk memintaku membeli kue dengan bentuk beruang bulat.

Bentuk kue yang dilihat di katalog online.

Aku pun kemudian langsung memesan kue dengan bantuan jasa ojeg online. Raynar pun beberapa kali mengirimkan voice note dan mengatakan bahwa ia tidak sabar untuk membuka kuenya. Padahal pesanan sampai juga belum….

Kotak kemasan kue yang bikin penasaran karena hanya bisa mengintip sedikit.

Sesampainya di rumah, Raynar begitu antusias. Lalu dia bertanya, “Bu, kita sembunyiin dimana kuenya?” Karena dia khawatir rencananya akan gagal karena Babah suka buka kulkas untuk cari cemilan. Aku membungkus kotak kue dengan plastik dan menggabungkannya dengan bahan-bahan lain yang ada di kulkas agar tidak terlalu tampak mencolok saat kulkas dibuka. Usahaku untuk menyembunyikan kue dengan ukuran yang lumayan besar untuk disimpan di kulkas tampaknya agak sulit karena kejujuran Raynar. Dia terlalu banyak antisipasi atas segala hal yang belum pasti. Misalnya, Raynar sudah menentukan jawaban seandainya Babah bertanya ‘Itu kue siapa di kulkas?’ Katanya, Raynar akan menjawab, ‘Itu kue punya Ibu (eyangnya).’ Padahal pertanyaan itu tidak muncul dari Babah, dan Raynar sepertinya tidak tahan dengan rencana kejutan ini.

Raynar : “Bah, tau gak, Bubu beli kue lho…” Babah : “Oya, kue buat siapa?” Raynar : “Gak tau Bah, kayaknya buat Ibu.”

Dan Babah pun mendapatkan setitik bocoran tentang kejutan ulang tahunnya.

Pagi hari di hari ulang tahun Babah, belum juga mandi, baru saja bangun tidur, Raynar mengajak ke dapur dan membuka kotak kue. Kami berdua memasang lilin ketika Babah sedang shalat subuh. Dan Raynar berfoto dengan kue ulang tahun Babah.

Raynar dan kue ultah beruang yang ternyata aslinya tidak pakai topi.

Kemudian, kami membawa kue ultah lengkap dengan lilinnya ke kamar. Seperti kebanyakan orang ketika memberikan kejutan kue ulang tahun.

Perancang kejutan dan yang ‘terkejut’.

Rancangan kejutan yang dibuat oleh Raynar memang sederhana. Namun bagi anak usia 5 tahun yang berinisiatif menjadi EO sederhana di ulang tahun Babahnya, membuat cukup banyak pengembangan yang terjadi.

Raynar sudah menunjukkan sikap proaktifnya dengan mengajukan ide membuat sebuah kejutan. Kemudian ia pun belajar mengenai konsep waktu dan hitung dengan mengajukan pertanyaan ‘Berapa hari lagi?’ lalu ia menghitung mundur. Menghitung mundur dari 30 hingga 0 merupakan hal yang tidak mudah bagi anak. Raynar pun belajar mengenai urutan hari yang cukup abstrak, membuat urutan rencana kegiatan atau hal yang harus ia lakukan, berpikir mengenai beberapa kemungkinan dan memikirkan antisipasinya. Dan yang jelas, kejutan ini menunjukkan kepekaan dan rasa sayangnya pada Babah.

Tidak ada hadiah lain yang kami siapkan untuk Babah, hanya kue dan tentunya doa semoga usia yang dijalani selalu mendapatkan berkah.

Selamat ulang tahun, Babah. We love you.

Leave a Reply