Mindfulness

7 0

Hai. Sudah berapa lama sih pandemi ini?
Sebagai orang yang sebenarnya introvert dan ga suka keramaian, aku cukup mensyukuri saja bisa cukup banyak waktu bekerja dari rumah. Dinikmati, disyukuri, dan menaruh harapan cukup besar agar semua kondisi berangsur pulih. Yang penting sabar kan…

Awalnya, kupikir berdiam di rumah tidak akan selama ini. Sebulan, dua bulan mungkin cukup. Tapi ternyata berlanjut ke bulan-bulan selanjutnya. Kondisi makin membaik? Belum juga, kalau tidak mau mengatakannya sebagai kondisi yang sama sekali tidak baik. Manusia introvert juga tetap diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk sosial, dengan keterbatasan sosial tetap butuh bersosialisasi bagaimana pun caranya. Sebisa mungkin aku tetap nurut, kalau ga penting ya ga kemana-mana. Ke supermarket pun ga pernah, karena ada marketplace si penyelamat. Jadi apa sih intinya?

Di masa hanya di rumah dalam jangka waktu lama, membuat aku hanya berinteraksi langsung dengan keluarga tapi masih tetap bekerja. Aku ada di rumah tapi jiwa dan pikirannya ada di sekolah karena aku tetap mengajar, rapat, dan diskusi segala hal terkait sekolah. Lalu dampaknya, Raynar sepertinya sudah mulai tertekan. Tidak bertemu teman, tapi Bubunya ada dan tiada. Tidak bisa meminta dia memahami, karena memang kondisinya bukan untuk dia pahami. Konkritnya, Bubu ada tapi tidak fokus ada buat dia. Jadi, Bubu harus menciptakan waktu khusus untuk dia supaya dia mau memberi waktu Bubu juga bekerja. Tapi apakah mulus? Tentu tidak. Ini yang membuat Raynar sering tantrum belakangan ini… Yang membuat aku sedih di pandemi ini.

Sempat merencanakan untuk berkonsultasi dengan psikolog, tapi aku tahu, aku sadar, bahwa yang perlu diperbaiki adalah aku. Bukan siapa-siapa. Aku yang tersulut emosi, aku yang jadi lebih mudah marah, aku yang uring-uringan, aku yang mulai menyalahkan sekitar. Lalu aku belajar. Bicara. Dan tentu minta maaf. Aku mencari hal yang bisa membuatku lebih tenang. Membaca buku, belajar berkebun, menulis. Hanya demi Raynar bisa merasa nyaman selalu berada di samping Bubunya yang tenang. Mau ga mau, selama pandemi masih ada.

Mindfulness. Kata ini adalah kata yang memiliki makna mendalam bagiku saat ini. Aku belajar menjalani segala peran dalam hidupku dengan penuh kesadaran. Memangnya sebelumnya tidak dijalani dengan penuh kesadaran? Sadar sih, tapi mungkin hanya sekedar dijalani. Terkadang ada hal-hal yang kulakukan karena memang harus dilakukan bukan ingin kulakukan karena menghayati tujuannya, menghayati end in mind nya. Aku kini belajar lebih tenang dan tidak terburu-buru ketika menjalani peran-peran dalam hidup yang jelas beragam.

Setelah sekian lama lebih banyak di rumah, pasti membuat emosi naik dan turun. Tuntutan dari sebuah peran yang tanpa disadari akan merenggut waktu dalam menjalani peran lainnya. Hal ini perlu disadari.

Calm. Buku berisi hal-hal kecil untuk diresapi.

Calm. Buku ini salah satu yang kubaca. Supaya aku lebih tenang. Minum kopi tidak hanya sekedar minum kopi, tapi menyesapnya perlahan dan menghayatinya. Apakah itu berlebihan? Sekarang, kupikir menghayati banyak hal di sekitar tidak menjadi berlebihan. Lebih menyadari keberadaannya membuat diri ini semakin lebih banyak bersyukur. Lebih banyak berpikir sebelum bertindak, dan belajar berpikir sejenak sebelum berbicara. Terdengar seperti hanya hal sederhana, tapi sesungguhnya aku merasa inilah yang menjadi dasar dan akar masalahku akhir-akhir ini.

Mindfulness juga merupakan sebuah metode / teknik dalam bermeditasi. Yang menjadi perhatian utama adalah perhatian dan juga penerimaan. Memperhatikan segala hal meski hal kecil yang berada di sekitar, dan menerima segala hal yang telah ada dalam hidup ini. Mindfulness bagiku adalah hal yang paling sederhana, aku tidak perlu mengubah apapun yang kumiliki dalam hidup hanya untuk menjadi pribadi lebih baik, namun hanya lebih perhatian dan menerimanya dengan kesadaran penuh. Tidak ada tubuh yang sehat jika mentalnya tidak sehat, bukan?

Leave a Reply