My Cousin Ah Meng

Sudah sejak lama aku menyukai buku cerita anak. Dulu, aku sering membeli buku cerita anak terjemahan. Kini, dengan semakin mudahnya mendapatkan buku anak impor dan makin banyak pula buku cerita anak Indonesia yang bagus-bagus, bacaan buku cerita anakku pun makin beragam. Selain membeli sendiri bukunya, aku juga semakin kerap meminjam buku cerita anak dari perpustakaan untuk variasi bacaan Raynar di rumah.

Biasanya, Raynar sering mengajukan permintaan mengenai tema buku yang ingin dibacanya. Misalnya buku tentang dinosaurus, mobil, truk, kereta api, atau binatang-binatang. Beberapa waktu lalu, aku memilihkan buku dengan cover bergambar orang utan untuk dipinjam dari perpustakaan Elmuloka. Seperti biasa, aku akan membacanya duluan sebelum buku itu kubacakan pada Raynar. Bukunya berjudul ‘My Cousin Ah Meng’ yang bercerita tentang seekor orang utan di kebun binatang Singapura.

My Cousin Ah Meng

Buku ini awalnya mengambil sudut pandang seorang penjaga kebun binatang yang menceritakan tentang Ah Meng seekor orang utan. Ah Meng disebut sebagai ‘my cousin’ karena orang utan adalah binatang yang paling mirip dengan manusia, kecerdasannya serta tingkah lakunya pun mirip dengan manusia. Kemudian sudut pandang berubah, seolah-olah Ah Meng sendirilah yang bertutur mengenai kisah hidupnya.

Ah Meng ternyata berasal dari hutan Sumatra yang terbakar. Saat hutan terbakar, Ah Meng masih sangat kecil. Induknya tidak selamat dan ia dikurung. Akhirnya Ah Meng dijual pada orang yang sangat sayang binatang dan ia dirawat di zoological Singapura. Di kebun binatang, Ah Meng diajarkan untuk hidup di alam liar, ia pun dikenal sebagai orang utan yang sangat ramah pada manusia. Jika Ah Meng bisa berbicara dalam bahasa manusia, ia berharap agar manusia dapat lebih menjaga lingkungan, tidak membakar hutan, dan mejaga binatang-binatang tenang dalam habitatnya. Tapi apa daya, ia tidak punya kata-kata untuk diucapkan.

Halaman akhir buku ‘My Cousin Ah Meng’

Saat membaca buku ini, aku merasa sedih. Ternyata banyak ya manusia yang kejam pada binatang. Binatang yang berasal dari Indonesia tapi kemudian dirawat dengan baik di negara tetangga karena di rumahnya sendiri ia tidak aman.

Untuk Raynar yang belum 3 tahun, mungkin buku ini masih terlalu berat. Namun pesan yang bisa kusampaikan padanya adalah Raynar harus sayang binatang, tidak buat binatangnya sedih dan kehilangan rumah atau keluarganya.

Kalau mau membaca sendiri buku ini, bisa dipinjam di perpustakaan Elmuloka.


Leave a Reply