Papua Juga Indonesia

Aku sering melihat #PapuaJugaIndonesia tanpa benar-benar paham maknanya. Ya memang Papua itu Indonesia kan… Sampai akhirnya aku berkesempatan mengunjungi Papua di bulan Maret lalu. Bukan, kali ini bukan untuk liburan. Aku mendapat tugas mengajar guru-guru di sana, tepatnya di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Atau mungkin lebih cocok kalau disebut dengan kegiatan sharing pengalaman menulis cerita untuk anak-anak.

Aku senang melakukan perjalanan. Tapi sejujurnya, sebenarnya aku takut naik pesawat. Apalagi waktu itu, aku harus pergi sendiri dengan penerbangan tengah malam. Aku harus terbang dari Jakarta dan berangkat dari Bandung sore hari. Ternyata, perjalanan yang cukup lancar membuat travel tiba pukul 20.00 dan aku harus menunggu 2 jam untuk check-in dan menunggu 2 jam lagi untuk terbang, sendirian. Aku menunggu dengan makan, tentu saja.

Aku terbang dengan pesawat tengah malam menuju Sorong. Perjalanan menempuh waktu 4 jam dan aku sampai di bandara Domine Eduard Osok, Sorong pukul 06.00 WIT karena perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Sorong. Lalu, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pesawat Wings Air yang berukuran lebih kecil menuju Fakfak. Pendaratan di bandara Torea Fakfak membuatku pasrah dan terus berdoa, karena bandara Torea berada sangat dekat dengan laut dan jurang.

Seperti biasa, di setiap perjalanan dengan pesawat aku pasti akan merekam langit dan awan. Kembali berkontemplasi diri dan kemudian bersyukur, siapa kira berprofesi sebagai guru anak usia dini bisa pergi nyaris ke ujung Indonesia.

Di Fakfak, aku menginap di Hotel Grand Papua. Perjalanan dari bandara Torea menuju hotel melewati jalan yang berkelok-kelok karena Fakfak adalah kota dengan tanah yang berbukit-bukit. Fakfak berada tidak jauh dari laut sehingga aku bisa melihat laut dari jendela hotel.

Laut dan langit dari jendela hotel.

Di hari pertamaku di Papua, aku hanya menghabiskan waktu di kamar hotel, nonton TV kabel dengan sesekali listrik hotel mati, mandi air hangat yang ternyata tidak hangat, makan nasi goreng seafood, dan makan sayuran yang harganya cukup mahal. Malam harinya aku menghadiri pertemuan dengan pejabat Dinas Pendidikan untuk membuat perencanaan kegiatan workshop.

Nasi goreng seafood hotel Rp. 40.000,-

Menurut Dinas Pendidikan, permasalahan anak-anak di Papua adalah masalah karakter. Nyaris semua anak sulit menurut perkataan orangtua, sering melawan dan berkata kasar. Tentunya ini merupakan salah satu tugas pendidikan di sana, membuat anak-anak menjadi lebih baik. Salah satunya dengan cara dongeng cerita karakter. Dan aku membantu berbagi hal yang kuketahui mengenai dongeng dan menulis cerita bagi guru-guru di Fakfak.

Cerita karakter baik, tidak selalu melulu harus ada contoh buruk yang cukup ekstrim yang perlu dihindari dan diakhiri dengan pesan-pesan moral. Kupikir hal tersebut yang akan membuat anak berpikir dua kali lipat lebih berat, memilah mana hal yang perlu dijadikan contoh dan mana yang perlu dihindari, memilah mana yang buruk mana yang baik. Lagipula tidak terlalu sulit sebenarnya membuat cerita dengan semua contoh baik saja tanpa menyebutkan kata dan kalimat negatif dalam ceritanya. Tulis saja cerita yang menjadi harapan kita sebagai pendamping anak-anak. Tapi ternyata, prakteknya tidak semudah itu. Guru-guru banyak yang membuat cerita dengan konflik cukup berat. Cerita anak durhaka, dendam dan kebencian, persaingan, dan diakhiri dengan berbagai nasehat bahwa hal tersebut tidak baik untuk dilakukan. Saat itu, banyak pertanyaan bergejolak dalam pikiranku, mengapa nasehat dan pesan moral itu tidak dijadikan konten saja di dalam cerita yang ingin disampaikan?

Pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter paling efektif dilakukan dengan contoh keteladanan. Jika ingin disampaikan melalui cerita, tentunya perlu cerita-cerita yang berisi kebaikan. Dan hal tersebutlah yang coba dilakukan oleh para guru di Fakfak, membuat banyak cerita kebaikan.

Pada prakteknya, membuat cerita dengan konten positif dengan konflik yang tetap menggunakan bahasa baik cukup sulit dilakukan. Namun tentu saja butuh pembiasaan bukan? Karena pada dasarnya sudah menjadi budaya kita yang melarang anak berbuat buruk, bukan mengharapnya berperilaku lebih baik. Kita sebagai orang dewasa lebih sering menggunakan kata ‘jangan’ dibandingkan menyebutkan harapan-harapan baik kita. Dan tentu saja keteladanan yang menjadi dasar bagi keberlangsungan pendidikan karakter di mana pun itu, bukan hanya di Papua sebagai salah satu bagian kecil Indonesia. Cerita mengenai proses menulis guru-guru ini sangat seru. Dan kupikir akan kutulis di cerita yang berbeda. Semoga.

Di sela-sela kegiatan menulis bersama guru-guru, aku melihat pemandangan laut melalui balkon ballroom hotel. Di seberang tempatku berdiri, aku melihat sebuah pulau berukuran panjang yang ternyata adalah Pulau Panjang. Pulau yang dijadikan tempat pengungsian ketika terjadi kerusuhan Maluku yang hingga kini menjadi tempat tinggal tetap banyak orang. Di sisi lainnya, ada sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang menjadi tujuan piknik warga Fakfak. Pulau ini bisa ditempuh dengan menggunakan kapal kecil.

Pulau Panjang
Pulau tak berpenghuni

Fakfak yang berada tidak jauh dari pantai membuatku sering melihat awan hitam membawa hujan dengan jelas. Awan hitam seringkali hanya lewat terbawa angin dan mengirimkan hujan yang hanya dalam hitungan menit. Lalu aku bisa melihat awan itu kembali berjalan. Selama aku berada di Fakfak, setiap hari aku bertemu hujan yang hanya beberapa menit, bahkan di sore terakhirku di sana aku merasakan dikejar-kejar awan hitam. Saking paniknya, aku sibuk melindungi kamera, bukan kepala.

Karena aku mengunjungi Fakfak untuk bertugas, maka tidak banyak kesempatan untuk mengunjungi banyak tempat. Aku juga tidak punya kesempatan main di Pantai Patawana yang cukup terkenal di sana. Tapi tentunya aku mendapat kesempatan untuk berkuliner hidangan laut yang tentunya enak. Fakfak yang dekat dengan pantai tentu punya hasil laut yang berlimpah, dan hasil sayuran yang lebih mahal.

Ikan bakar dengan porsi nasi segambreng.
Saraba, minuman sejenis bajigur yang rasanya manis.

Selain kuliner, aku mengunjungi taman kota yang saat itu belum diresmikan. Ada sebuah tugu yang merupakan lambang Fakfak yang disebut dengan ‘Satu Tungku Tiga Batu’ yang maknanya adalah satu keluarga dengan tiga agama sebagai penopang. Karena Fakfak adalah kota yang sangat terlihat toleransi beragamanya. Di tengah kotanya pun terdapat tiga rumah ibadah yang saling berdampingan. Di pinggir pantai, ada tulisan Fakfak City dengan ukuran yang besar. Kurang sah rasanya kalau aku tidak berfoto di sana.

Di hari terakhirku di Fakfak, aku mengunjungi Pasar Tambaruni. Pasar ini adalah pasar biasa seperti kebanyakan pasar di daerah lain. Banyak dijual berbagai macam kebutuhan dari makanan hingga pakaian. Di bagian depan pasar, banyak sekali pedagang Durian. Kabarnya durian Fakfak memang terkenal enaknya. Aku yang bukan pecinta Durian pun mendapat pesan dari Wakil Bupati Fakfak agar mencoba Durian Fakfak yang manis.

Saat berjalan-jalan di pasar, aku melihat tomat unik. Tomatnya keriting. Entah bagaimana rasanya, tapi cantik kelihatannya.

Pedagang Durian aka Duren di Pasar Tambaruni.
Tomat keriting

Oke, baiklah. Akhirnya Fakfak menjadi tempat bersejarah sebagai saksi aku makan duren sampai habis. Di Fakfak, warganya seringkali menikmati makan duren di tepi pantai. Pantainya memang indah, tapi kalau diperhatikan lagi dengan baik, terlihat banyak sekali sampah. Menurut beberapa warga, jika sudah banyak sekali sampah biasanya di akhir minggu Bupati Fakfak akan mengajak warganya kerja bakti membersihkan laut.

Laut yang cantik
Sampah-sampah di tepi pantai

Selain Duren, aku mencoba makan ikan asap khas Fakfak. Menurut warga sekitar, ikan asap harus dimakan bersama suami. Awalnya kupikir apakah ikannya haruus kubawa pulang untuk dimakan bareng suami di rumah? Ternyata, suami itu adalah nama makanan. Semacam tumpeng kecil yang terbuat dari singkong dan kelapa. Rasanya enak, tapi memang porsinya sangat besar. Memang harus dimakan bareng suami supaya cepat habis.

Banyak hal menarik dan tersembunyi yang dapat diceritakan mengenai keindahan Fakfak Papua. Namun masih banyak pula hal yang jauh berbeda dengan daerah-daerah lainnya. Salah satu yang masih perlu dikembangkan pastinya pendidikan. #PapuaJugaIndonesia maka Papua juga punya hak yang sama untuk semakin maju.


Leave a Reply