Read Aloud

Read aloud jika diterjemahkan secara bebas, bisa berarti membaca secara lantang atau nyaring. Maksudnya adalah ada orang yang membacakan cerita buku dan ada yang dibacakan atau mendengarkan. Di Indonesia, awalnya read aloud ini merupakan suatu komunitas para orangtua yang mencoba membacakan cerita setiap hari pada anak-anaknya. Ternyata dampak positif yang didapatkan sangat banyak. Aku pernah mendengar, bahwa sebaiknya kita membacakan buku cerita pada anak sejak dini, bahkan ketika anak masih dalam kandungan. Musik klasik itu baik, tetapi akan lebih baik jika anak mendengarkan sendiri suara kedua orangtuanya.

Membacakan buku yang baik untuk anak dan juga baik untuk orangtua, akan banyak memberi dampak positif bagi anak. Misalnya dalam hal kosakata dan komunikasi. Seorang anak yang sudah mendengarkan cerita kurang lebih selama 300 jam, akan terlihat perbedaan kosakata dan caranya berkomunikasi dengan orang lain. Ia akan menggunakan kata dan kalimat yang mungkin pernah ia dengarkan saat kegiatan bercerita.

Ternyata di Amerika sana, read aloud sudah memiliki panduannya berupa The Read Aloud Handbook sejak sekitar 40 tahun yang lalu. Jim  Trelease penulisnya adalah seorang jurnalis yang menuliskan pengalamannya dibacakan buku oleh kedua orangtuanya. Di Indonesia buku ini baru diterjemahkan pada tahun 2008 yang lalu atas ajuan dari Ibu Roosie Setiawan. Seorang ibu yang telah merasakan sendiri manfaat dari membaca buku The Read Aloud Handbook versi bahasa Inggris. Beliau berharap buku ini lebih banyak lagi dibaca oleh para orangtua dan juga guru untuk mulai membacakan buku pada anak secara nyaring. Selain menyebarkan virus read aloud kepada para orangtua di Indonesia, ibu Roosie juga menulis buku berjudul ‘Membacakan Nyaring’ yang merupakan semacam buku panduan untuk memulai membacakan buku secara nyaring pada anak sejak usia 0 tahun. Buku ini sangat menarik dan praktis karena berisi langkah-langkah yang dapat dilakukan serta diberi penjelasan visual.

Tanggal 22 Desember 2018 yang lalu adalah peringatan 10 tahun diterjemahkannya buku The Read Aloud Handbook. Di hari tersebut, ibu Roosie ingin mengkloning dirinya dan memperbanyak penerus untuk menyebarkan virus read aloud ke lebih banyak orang di Indonesia melalui kegiatan ToT Read Aloud yang diadakan di perpustakaan Elmuloka. Pada kegiatan ini, banyak peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, namun semuanya adalah orang-orang yang peduli pada perkembangan literasi di Indonesia dan tentunya akan langsung terkait pada perkembangan anak-anak secara umum. Pada kegiatan tersebut, peserta diajak untuk membedah buku The Read Aloud Handbook dan mendalaminya bersama. Kami sebagai peserta diajak untuk menemukan bukti-bukti manfaat read aloud yang sudah dipaparkan oleh Jim Trealese melalui bukunya. Selain itu, kami sama-sama berlatih membacakan buku cerita secara nyaring di hadapan semua peserta dan menyusun rencana hal yang akan dilakukan saat akan berbagi melalui kegiatan workshop.

Ibu Roosie mencontohkan read aloud.

Banyak sekali orangtua yang memiliki harapan bahwa anaknya dapat membaca di usia 5-6 tahun (setara TKB), dengan asumsi di SD nanti mereka sudah dapat lancar mengikuti materi. Namun banyak sekali yang perlu diketahui oleh orangtua mengenai fakta membaca.

Fakta membaca :

  1. Manusia itu suka hal yang menyenangkan.
  2. Membaca adalah suatu keahlian yang didapat perlahan-lahan.

Maka, mengapa kegiatan membaca tidak dibuat menyenangkan? Sehingga dalam menjalani prosesnya semua dilakukan dengan bahagia. Termasuk saat mengajak anak belajar membaca secara teknis.

Membaca merupakan keahlian yang didapat secara perlahan-lahan. Sejak kapan harus dimulai? Tentu saja sejak usia 0 tahun, bahkan sejak bayi masih di dalam kandungan. Tidak perlu alasan ‘anak belum paham’ karena sudah jelas anak bisa mendengarnya saat orangtua membacakan buku secara nyaring untuknya. Karena sesungguhnya baca itu adalah proses yang sangat jauh sebelum anak belajar membaca. Orangtua (dan tentu saja guru) perlu mengutamakan anak untuk MAU membaca terlebih dulu, sebelum akhirnya BISA membaca nantinya. Jangan pernah bergegas mengajarkan anak membaca tetapi kita boleh membacakan cerita sedini mungkin. Berikan pengalaman membaca yang menyenangkan sedini mungkin dan jadikan membaca sebagai gaya hidup.

Saat anak membaca, banyak hal yang perlu diperhatikan bukan hanya sekedar lancar secara teknis. Komponen yang perlu diperhatikan ketika membaca :

  1. Pengetahuan terhadap huruf
  2. Kesadaran akan fonem
  3. Perbendaharaan kosakata
  4. Kelancaran
  5. Pemahaman bacaan

Kesadaran fonem, perbendaharaan kosakata, serta pemahaman bacaan banyak didapatkan saat anak dibacakan cerita sejak dini secara nyaring. Mereka telah terbiasa mendengarkan bunyi kata, memaknai kata, serta memahaminya. Hal ini kemudian akan berlanjut pada keingintahuannya terhadap huruf dan mulai mencoba membaca. Kosakata yang didengarkan oleh anak ketika ia berumur sebelum 2 tahun, ternyata akan membantunya dalam kemampuan akademisnya di masa depan.

Sebelum anak dapat memahami bacaan, hindari untuk membaca komik. Komik menggunakan bahasa percakapan yang dapat dipelajari saat berbicara sehari-hari. Sedangkan yang dibutuhkan oleh anak adalah pemahaman kosakata buku. Hindari pula mengenalkan kata hanya melalui kartu-kartu kata tanpa konteks yang tidak membuatnya mampu dipahami anak ketika kata tersebut berada dalam kalimat cerita.

Jadi, bagaimana memenuhi harapan orangtua agar anaknya dapat lancar membaca? Tentu saja orangtua perlu memenuhi hak anak untuk dibacakan cerita secara nyaring oleh orangtua (dan gurunya) setiap hari. Sajikan buku-buku cerita menarik dan bukan hanya mengajak anak membaca kartu kata, poster huruf, atau bahkan tulisan di sepanjang perjalanan. Luangkan waktu 15  menit sehari untuk kegiatan membacakan secara nyaring untuk anak. Waktu yang tak seberapa ini akan menjadi investasi yang berharga bagi anak di masa depan dan agar kita semua menjadi bangsa pembaca yang tidak lagi miskonsepsi terhadap makna literasi.

 


Leave a Reply