Sebuah Janji Untuk MenyembahMu

Tuhan menyapaku lewat sandal hitam bersol tebal ala tahun 50an bermotif polkadot.

Hari di penghujung bulan Mei 94 itu aku menulis di buku harianku.

Tuhan, kalau Kau buat aku lolos ujian Ebtanas dengan nilai tertinggi, aku tak akan lupa untuk menyembahMu.’

‘Jangan lupa Tuhan. Berikan aku rizki lewat menyanyi di akhir bulan ini. Supaya aku bisa membeli sandal bersol tebal layaknya kepunyaan Nurazizah. Aamiin…’

Sejak kecil, shalatku hanya kulakukan berjamaah di pengajian sore atau di sekolah.
Di rumah? Hanya kulakukan shalatku kalau pakdeku mulai berpidato, “Tak berdoa, tak sembahyang. Sudahlah jadi makhluk tak beragama saja!”

Maka aku pun berlalu dengan lunglai dari hadapan TV menuju sumur timba dan mulai menarik air untuk wudhu yang seringkali kulakukan dengan asal asalan.

Tapi aku ingat, di penghujung bulan Mei 94 itu aku sembahyang dengan mukena kekecilan yang kumiliki sejak kelas 1 SD pemberian budeku ketika dia bilang agamaku Islam, yang diberikannya bersamaan dengan buku bacaan shalat. Keluarga besar pakde dan budeku adalah keluarga Protestan yang taat.

Aku ambil wudhu dengan hati-hati, takut wudhuku salah dan Tuhan nanti tak menerima shalatku.
Kutarik mukena bawahku sampai panggul agar aku tak tampak seperti anak memakai rok span. Aku pakai kaos berlengan panjang agar tanganku yang menjulur dari mukena ngatung ini tertutup sampai jauh. Ingin kupastikan syarat Tuhan untuk menyembahnya kupenuhi semua. Sendal bersol hitam itu jadi taruhannya. Urusan Ebtanas sebenarnya tak terlalu kurisaukan. Sejak kelas 2 SD hanya ada satu angka yang mengisi ranking di raportku. Ranking 1. Tapi urusan sandal ini, jauuuuh lebih pelik buatku. Dan mulailah aku shalat dan berdoa dengan sungguh-sungguh.

Sandal hitam bersol tebal itu sangat aku idam-idamkan.
Tak pernah dan tak berani aku meminta kepada mamak bapakku yang datang menjengukku. Tak pernah dan tak berani pula aku meminta pada pakde bude yang mengurusku. Aku terbiasa memendam segala keinginanku semenjak kecil. Hanya akan kuwujudkan kalau aku sendiri sanggup membelinya, dari honor menyanyi yang tak seberapa itu.

Ketika akhirnya aku mendapati NEM ku tertinggi di kelas, dan di tanganku tergenggam uang 20 ribu rupiah, honor menyanyi, bibirku tersenyum lebar. Segera kukayuh sepeda Federal milik pakdeku sampai ke Pasar Antri. Di sepanjang jalan Gandawijaya, di kanan dan kirinya, para pedagang kaki lima sudah siap menerima kunjunganku dengan uangku yang hanya 20 ribu itu. Di depan Toko Hai, tukang sandal mengipas-ngipas dagangannya layaknya dia berjualan pindang. Dengan penuh percaya diri, kuparkir sepeda di samping lapaknya, kuambil sendal hitam bersol tebal bermotif polkadot seperti kepunyaan Nurazizah. Kuberikan uang 2 lembar 10 ribuan merah jambu pada pedagang sandal dan dia memberikan kembalian 5 ribu. Ah…pikirku. Lengkaplah sudah kebahagiaanku. Aku masih bisa membeli majalah Bobo atau komik Donald Bebek dengan kembalian ini.

Sesampai di rumah, ada mamak dan bapakku yang datang berkunjung. Mamak menyodorkan bungkusan kertas koran. Apa ini? Hadiah katanya, karena NEM ku tertinggi di sekolah.
Kubuka segera, didalamnya ada mukena katun dengan ornamen bunga biru di pinggirannya. Ternyata bude membaca buku harianku dan menceritakan pada Mamak, bahwa aku berjanji pada Tuhan akan rajin menyembahnya kalau NEM ku tertinggi di kelas.

Umurku waktu itu 12 tahun. Sepanjang hidup aku baru 2 kali memiliki mukena. Kujajarkan mukena baru dan sandal hitam bersol tebal itu diatas kasur. Aku bilang, “Ok Tuhan. Kau ok juga. Akan kusembah rutin Kau ya. Siap siap saja…”

Hari ini umurku sudah 36 tahun. Tak sengaja ketika mencari tirai, kutemukan mukena katun berhias bunga biru kala aku 12 tahun itu. Dan aku terduduk diam. 24 tahun sudah berlalu. Sudah seberapa sering aku menyembahNya sejak janji itu kuucapkan kala mukena ini masih putih warnanya?

Kupandangi mukena lusuh berwarna kuning kecokelatan karena usia ini.

Ya Tuhanku……
Masihkah sudi kau terima sembahanku?
Aku sungguh malu padaMu…

Tuhan…

Aku akan selalu berusaha menemuiMu untuk meminta maaf. Atas semua janji yang pernah aku ucapkan padamu.

Kau tak perlu berikan aku sendal hitam bersol tebal seperti kepunyaan SI Nurazizah.
Lagi pula setelah kuingat ingat, sandal itu memang agak norak.

Ok… See you soon Tuhan๐Ÿ˜˜
Meinar , Oktober 2018


Leave a Reply