Tuhan menyapaku lewat sandal hitam bersol tebal ala tahun 50an bermotif polkadot. Hari di penghujung bulan Mei 94 itu aku menulis di buku harianku. ‘Tuhan, kalau Kau buat aku lolos ujian Ebtanas dengan nilai tertinggi, aku tak akan lupa untuk menyembahMu.’ ‘Jangan lupa Tuhan. Berikan aku rizki lewat menyanyi di akhir bulan ini. Supaya aku bisa membeli sandal bersol tebal layaknya kepunyaan Nurazizah. Aamiin…’ Sejak kecil, shalatku hanya kulakukan berjamaah di pengajian sore atau di sekolah. Di rumah? Hanya kulakukan shalatku kalau pakdeku mulai berpidato, “Tak berdoa, tak sembahyang. Sudahlah jadi makhluk tak beragama saja!” Maka aku pun berlalu dengan lunglai dari hadapan TV menujuRead More →