Tulis vs Lukis

Raynar mengenal kuas lukis lebih dulu dibandingkan alat tulis seperti spidol dan lainnya. Saat mulai dikenalkan dengan alat tulis sebagai perlengkapannya bermain corat-coret, Raynar masih kesulitan membedakan antara ‘lukis’ dan ‘tulis’ sehingga alat tulis apa pun dia sebut dengan ‘lukis’. Aku memang menyimpan beberapa stok peralatan gambar dan lukis di rumah, sesekali dipakai tapi seringnya memang teronggok menganggur menunggu untuk digunakan. Ternyata stok peralatan itu berguna sekali untuk peralatan perang Raynar.

Raynar mencoba bermain corat-coret dengan memakai pensil warna, dia tampak takjub dengan warna berbeda-beda yang digoreskan di kertas. Dia semakin takjub ketika aku mulai memberinya spidol dan krayon yang punya warna lebih terang dibandingkan pensil warna

Aku akhirnya menyiapkan beberapa lembar kertas yang ditempelkan di lantai supaya tidak mudah bergerak ketika Raynar mulai menggambar. Wilayah gambar (red : corat-coret) pun akan semakin luas. Raynar kini mulai rutin dengan kegiatan menggambar dan melukisnya di tepian kolam ikan milik eyang. Sekarang pun peralatannya akan selalu ada di tepian kolam.

Aku awalnya tidak berekspektasi tinggi dengan hasil coretan Raynar. Aku memfasilitasi dia dengan berbagai alat warna hanya sebagai stimulus awal sensorinya tentang warna. Tapi ternyata yang terjadi lebih dari itu. Semakin hari, aku semakin melihat perbedaan hasil goresan yang dibuatnya. Dari awalnya yang berupa garis-garis lurus kaku hingga ia mulai menggerakkan pergelangan tangannya berputar-putar membuat garis-garis lengkungan dan bulat-bulat. Kemampuan motorik halusnya ternyata juga semakin berkembang.

Selain itu, Raynar mulai terdengar menceritakan apa yang dibuatnya. Dia bercerita, “Bubu, ini cacing bobo.” Hingga kini, gambar cacing bobo sering menjadi andalannya. Hehe…

Menurut Eyang, ini adalah gambar ‘rambut rontok’. Ini adalah coretan Raynar pertama kali dengan menggunakan pulpen. Hasilnya penuh!

Selanjutnya, Raynar mulai semakin sering berinisiatif untuk meminta alat tulis, warna, atau alat lukis untuk berkarya. Di mana pun dan kapan pun. Sewaktu Raynar kuajak ke sekolah pun dia tampak bahagia menemukan berbagai macam alat tulis dan warna. Tapi sering kali, dia juga sulit untuk diminta berhenti untuk melakukan kegiatan yang lain. Raynar punya fokus yang cukup lama untuk terus menggambar dan melukis. Dan juga menceritakan karyanya tentunya.

Ini Raynar ketika di sekolah. Dia menemukan sekotak spidol dan langsung minta kertas. Dia memang sadar kalau melukis harus di kertas, tapi sekarang mulai masa-masa dia ekspansi lukisan ke lantai, karpet, bahkan baju Bubunya. Hasilnya berwarna-warni, bahkan kaya cerita. Raynar waktu itu cerita, “Hujan, semut, kue.” Sudah lebih variatif dibanding ‘cacing bobo’ memang, tapi tema-tema binatang bobo masih jadi favorit Raynar.

Aku semakin semangat memberi Raynar beragam alat tulis, warna, dan alat lukis. Kemampuannyya dalam beberapa hal tampak semakin berkembang. Raynar mulai mengenal warna biru, merah, ungu, coklat meski belum konsisten. Dia juga mulai menunjukkan perkembangan kualitas motorik halusnya dan variasi cerita karyanya. Selain itu, aku punya tambahan karya lukisan untuk dipajang di rumah nantinya.


Leave a Reply