Activities

Kebun Komunal di Kebun Belakang

Aku berkenalan dengan Kebun Belakang sudah sejak tahun 2019 lalu. Ketika itu, aku melakukan survey untuk kunjungan kegiatan anak-anak sekolah, sekaligus membawa Raynar melakukan eksplorasi, tentu saja. Ceritanya bisa dibaca di http://hotarukika.com/kebun-belakang/

Pada Oktober 2020, Kebun Belakang menawarkan kegiatan Kebun Komunal. Kegiatan dalam kelompok kecil saat pandemi Covid saat itu benar-benar kubutuhkan. Untuk bersosialisasi di luar rumah, lepas dari rutinitas yang semakin banyak di hadapan layar, dan tentu saja belajar mengenai hal yang baru. Sebenarnya tidak benar-benar baru, aku cukup sering berkegiatan menanam di sekolah. Memelihara beberapa sayuran dengan kitchen regrow. Namun, mengelola sayuran di area kebun yang benar-benar kebun memang baru untukku.

Pertama-tama, kuperkenalkan penjaga kebun yang ramah dan suka bermain. Jack namanya. Dia anak yang sangat antusias.

Jack yang ramah & suka bermain.

Kebun Komunal adalah kegiatan berkomunitas mengelola kebun bersama-sama. Aku, adikku, dan beberapa teman lainnya memilih jadwal yang disediakan pemilik kebun untuk kegiatan berkebun di akhir pekan. Setiap kali kelompok kegiatan hanya dibatasi sebanyak maksimal 5 orang. Setiap minggunya, kami belajar menanam sayuran, membersihkan rumput, belajar membuat kompos, membuat bedengan untuk tanaman, dan memberikan label nama untuk setiap bibit yang telah ditanam (meski awalnya kami seringkali lupa selama beberapa bulan).

Kami mengelola sebagian kecil wilayah kebun untuk sama-sama ditanam, dirawat, dan pada akhirnya hasil panennya pun dapat dinikmati bersama-sama. Banyak sayuran yang kami tanam sejak masih berbentuk benih (biji) sehingga cukup mengasah kesabaran kami hingga tiba waktunya panen.

Saung Kebun Belakang, tempat biasanya kami istirahat.
Area kebun yang digunakan untuk kegiatan Kebun Komunal.

Di Kebun Belakang, selainku belajar mengenai menanam, aku menemukan banyak hal dan pengalaman menarik. Hingga kini sudah berjalan 5 bulan berkegiatan di kebun komunal, aku masih saja kesulitan membedakan mana rumput liar (gulma) dan juga sayuran yang baru tumbuh. Setiap kali membersihkan rumput di kebun, aku pasti selalu bertanya, “Ini rumput atau sayuran yang baru tumbuh?”

Moment pertama menanam di kebun.
Mulai pembuatan kompos dari pohon pisang yang dicacah.
Jangan lupa memberi nama semua benih / bibit yang sudah ditanam. Karena dalam jangka seminggu saja, kebun sudah semakin rimbun dan akan sulit dikenali.

Kebun Komunal tidak hanya sekedar berkebun. Setelah beberapa bulan berkegiatan, kami menemukan kelompok yang sama. Sama-sama punya anak dengan usia yang tidak jauh berbeda. Jadi, ibu-ibu ini kemudian memilih jadwal berkebun yang bersamaan setiap 2 minggu sekali di hari Sabtu. Anak-anak bisa bermain bersama, masuk ke dalam kolam, bermain lumpur, memetik buah, dan piknik makan main bersama.

Raynar main di kolam kangkung.

Selain kebun sayuran, di Kebun Belakang juga ada beberapa jenis bunga yang tumbuh dan buah-buahan. Ada rasberry yang selalu berbuah sepanjang minggu. Aku selalu memetik buah ini untuk cemilan setelah nyangkul di kebun. Ada juga goldenberry, ciplukan, atau cecenet yang kalau masuk supermarket harganya cukup mahal.

Di kebun, banyak sekali serangga-serangga unik yang jarang ditemui jika kita berada di tempat yang tidak banyak tanaman. Seringkali aku menemukan Kepik dengan jenis yang berbeda. Di kebun, aku juga belajar bahwa ada jenis kepik pemakan daun tapi juga ada jenis yang memangsa kutu daun. Mengamati perilaku serangga makin menarik jika kita bisa melihat jenis yang sangat beragam. Aku juga sering menemukan larva bakal serangga yang sedang bersembunyi di dalam tanah. Kalau malam, di kebun sering terlihat kunang-kunang.

Panen adalah salah satu hal yang paling ditunggu. Ada kepuasan tersendiri jika kami berhasil menanam sejak benih, merawatnya dalam waktu yang cukup lama, kemudian sayuran berhasil dipanen dalam jumlah yang cukup banyak untuk saling berbagi. Di Kebun Belakang, ada kangkung yang selalu tumbuh liar dan dapat dipanen kapan saja. Jadi, ketika waktunya panen kami bisa mendapatkan bonus kangkung setiap saat sebanyak-banyaknya.

Sejak rutin berkebun di Kebun Komunal Kebun Belakang, banyak hal positif yang aku dapatkan. Dan tentu saja Raynar yang nyaris selalu ikut saat aku ada jadwal mengunjungi kebun. Aku yang sudah setahun ini lebih banyak WFH dan selalu berhadapan dengan layar, mendapatkan banyak sinar matahari saat di kebun, melihat banyak hal berwarna hijau untuk mengistirahatkan mata, dan tentu saja lebih banyak bergerak saat di kebun.

Raynar yang juga sudah setahun ini bersekolah di rumah, pasti tetap butuh bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Di kebun, meski dalam jumlah anak yang sangat terbatas, Raynar bisa mendapatkan kebutuhannya bermain dengan teman secara langsung yang (tidak apa-apa) itu-itu saja. Selain itu, Raynar mendapatkan kebutuhannya bermain kotor saat di kebun, melakukan eksplorasi tumbuhan, binatang, melihat banyak perbedaan dari serangga, melihat langsung apa bedanya kodok dan katak, melihat bukti nyata dari metamorfosis kupu-kupu, bahkan sampai melihat kelelawar secara langsung.

Mbak Ivana dan Kang Misbah, pasangan suami istri pemilik Kebun Belakang, membangun rumah mungil yang terbuat dari lumpur (Mud House). Rumah ini dibangun di sisi kebun yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat istirahat atau ruang mungil serba guna. Mud House dibangun sedikit demi sedikit sejak nyaris 2 tahun lalu (sejak awal aku datang ke kebun, bentuk mud house sudah mulai ada). Dan di awal bulan Maret 2021, akhirnya Mud House sudah tuntas dan rapi.

Dinding Mud House
Mud House yang baru saja selesai.

Semoga aku semakin mahir membedakan dedaunan, rerumputan, dan sesayuran di kebun. Dan dimudahkan rejekinya untuk mengelola kebun mungil sendiri. Ada Aamiin?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *