Activities,  Books & Stories,  Parenting

Mengajak Raynar Membaca

Sejak dulu, aku suka baca buku. Sejak hamil dan kemudian memiliki anak, aku pun suka membacakan buku buat anak. Menurutku hal ini adalah hal yang biasa. Namun semakin lama semakin sadar bahwa ternyata membacakan buku secara nyaring pada anak efeknya luar biasa. Di usianya yang baru 3 tahun, Raynar suka minta dibacakan buku berulang, pertanyaan makin banyak dan juga makin kritis, sudah paham bentuk suatu tulisan dan tahu kalau bentuk ajaib itu bisa dibaca, suka pura-pura membaca dan seringkali pura-puranya itu nyaris benar seperti tulisan yang tertera karena dia sudah paham konteksnya. Dan tentu saja semakin banyak hal lain yang bisa membuat takjub. Senjata andalanku di rumah buat main bersama Raynar sebenarnya hanya sedikit jenisnya. Tapi buku, jelas tidak pernah salah dan akan selalu ada.

Menurut banyak orangtua, mengajarkan membaca pada anak memiliki tantangan tersendiri. Namun di sisi lain, banyak teori-teori pendidikan yang menjelaskan mengenai tahapan kemampuan membaca pada anak yang lebih banyak dan mudah terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari. Hal yang sangat bertolak belakang, antara pendapat ahli dan pendapat orangtua sebagai awam. Dan ini yang menjadi latar belakangku mencoba membuatnya sejalan antara pendapat ahli dan aku sebagai orangtua yang (mungkin) akan mengajarkan anak membaca di rumah.

Cara yang aku coba adalah bukan mengajarkan Raynar membaca, tetapi mengajaknya membaca meski ia jelas-jelas belum bisa membaca. Aku cukup banyak memfasilitasinya dengan beragam buku cerita anak serta menelusuri pendapat para ahli yang bagi kebanyakan orangtua adalah teori. Menurut Lexy J. Moleong, tahapan membaca pada anak usia dini terdiri dari beberapa tahap, yaitu :

  1. Magical Stage (tahap fantasi), pada tahap ini anak mulai menganggap buku merupakan hal yang penting. Anak mulai membawa buku sebagai mainannya, melihat dan membolak-balikkan buku, serta mulai mempunyai buku kesukaan. Hal ini dapat terjadi jika orangtua rutin mengenalkan buku pada anak.
  2. Self Concept Stage (tahap pembentukan konsep diri dalam membaca), dalam tahapan ini anak mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca yang dilakukan bersama orangtuanya, mulai meniru dan pura-pura membaca buku memberi makna pada gambar dalam buku, serta berbicara menggunakan bahasa seperti di buku meski tidak sama antara tulisan dengan hal yang diucapkan.
  3. Bridging Reading Stage (tahapan membaca gambar), pada tahapan ini anak mulai mengenal gambar-gambar yang ada pada buku lalu menyebutkannya, mulai mencoba menceritakan kembali cerita-cerita yang sudah pernah dibacakan dengan bahasanya sendiri, dapat mengungkapkan kata-kata yang berkaitan dengan dirinya dan hal yang pernah dilakukannya, serta mulai mengetahui bahwa bentuk-bentuk huruf yang sebelumnya abstrak sebenarnya memiliki makna.
  4. Take Off Reader Stage (tahap pengenalan bacaan), anak semakin menunjukkan ketertarikannya pada bacaan, mulai memahami konteks dan mengaitkannya antara bacaan dan tulisan yang tertera, mulai mengenal lambang-lambang atau tanda pada lingkungan sekitarnya. Misalnya mengenal papan iklan, merk / logo makanan, tanda-tanda peringatan, dan sebagainya.
  5. Independent Reader Stage (tahap membaca lancar), pada tahapan ini anak semakin mahir mengaitkan dan menyusun pengalaman dari tanda dan isyarat tulisan yang sudah dikenal sebelumnya, dapat memperkirakan bacaan yang dilihat dan mengaitkan dengan bunyi yang dikenalnya. Anak dapat mulai membaca buku secara bebas meski belum benar-benar bisa membaca secara teknis, namun lebih banyak mengaitkan pengalaman-pengalaman membacanya bersama orangtua yang diekspresikan kembali dalam bacaan yang dipilihnya secara bebas.

Dalam tahapan-tahapan yang diungkapkan oleh Moleong, seluruhnya dapat dicapai oleh anak dengan rutin mengajaknya membacakan buku-buku cerita menarik. Karena sesungguhnya hal yang terpenting adalah kemampuan anak dalam mengaitkan pengalaman-pengalaman membacanya dengan kehidupan yang dialaminya. Seperti misalnya mengaitkan gambar yang dilihat dengan perilaku atau pengalaman yang pernah dilaluinya. Hal ini termasuk juga dalam kemampuan anak dalam mengenali bentuk-bentuk huruf yang abstrak. Dengan banyaknya pengalamam terpapar huruf yang ada pada buku-buku yang dibacakan oleh orangtua, anak akan semakin mengenal bentuk-bentuk tersebut sebagai bentuk yang bermakna dan dapat dibaca.

Raynar usia belum 2 tahun sudah mulai mencoba membacakan buku cerita sendiri dengan menyebutkan objek / gambar yang dilihatnya.
Selanjutnya, Raynar mulai mencoba menceritakan buku dalam bentuk kalimat.

Lalu, apakah anak boleh dikenalkan dengan huruf-huruf secara langsung, dan kapan sebaiknya hal tersebut dapat dilakukan? Yang aku lakukan bersama Raynar adalah dengan memberinya mainan-mainan huruf warna-warni dengan bentuk 3 dimensi. Mainan huruf-huruf ini aku berikan pada Raynar di usianya yang masih setahun menuju dua tahun. Namun aku belum menggunakan mainan huruf itu sebagaimana fungsi sebenarnya pada saat itu. Raynar menggunakannya untuk bahan dramatisasi masak, menjadikan mainan huruf sebagai makanan untuk boneka-bonekanya, lalu aku juga menggunakan mainan huruf warna-warni itu untuk mengajak Raynar melakukan permainan sama-beda (warna dan bentuk), mengajak Raynar mencari mainan huruf tersembunyi di rumah dengan hanya menyamakan bentuk atau warnanya saja, dan beragam ide main lainnya yang muncul dari Raynar. Seringkali mainan-mainan huruf itu Raynar gunakan sebagai objeknya untuk melakukan permainan lempar-lempar dan tuang tumpah dari wadah penyimpanannya.

Kegiatan membaca buku secara nyaring dengan menunjuk bacaan pada buku terus aku lakukan secara konsisten. Lalu tibalah saatnya Raynar menyadari, “Bu, itu yang di buku sama (bentuknya) dengan mainan Nenang (Raynar menyebut dirinya dengan sebutan Nenang).” Maka saat itulah aku mengenalkan, “Iya, itu namanya huruf, mainan Nenang namanya mainan huruf, mainannya beda bentuknya, beda bentuk beda namanya.” Dari sanalah Raynar mulai bertanya nama-nama mainannya dan aku mulai mengenalkannya dengan cara menyusun mainan huruf menjadi bentuk namanya agar semakin bermakna. Lalu, Raynar pun mulai berinisiatif menyamakan bentuk-bentuk mainan huruf dengan kartu-kartu huruf yang juga ia miliki.

Raynar menyamakan mainan huruf dengan kartu yang dimilikinya meski saat itu belum hafal nama huruf.

Setelah menyamakan bentuk-bentuk huruf mainan dengan kartu dan apapun tulisan yang ada di sekitarnya. Raynar mulai menunjukkan rasa ingin tahunya mengenai huruf, ia mulai bertanya nama huruf, fungsinya untuk apa, dan mulai sering bertanya, “Bu, ini bacanya apa?” Raynar juga mulai berpura-pura membaca dengan konteks yang tepat. Kemampuan Raynar dalam mengenal bentuk abstrak juga dilatih dengan kegiatan-kegiatan seperti bermain puzzle, menggambar, dan membuat bentuk-bentuk abstrak tersebut lebih bermakna dengan kegiatan bermain.

Raynar semakin banyak dipaparkan dengan huruf-huruf melalui cerita buku yang semakin kerap. Di rumah pun aku membeli stiker tempelan huruf dengan hiasan gliter-gliter dengan warna yang juga menarik dan ditempelkan di kamar tidur. Raynar yang memberi ide tempat-tempat menempelkannya, namun huruf memang sengaja ditempel dengan tidak berurutan. Karena stiker huruf gliter ditempelkan dekat dengan tempatnya tidur, setiap malam Raynar rutin bertanya, “Bu, yang ini huruf apa?” Dengan seringnya Raynar terpapar dengan huruf di rumah, saat di sekolah ia melihat mainan huruf, poster huruf, atau stiker huruf, Raynar spontan bernyanyi atau menyebutkan semua huruf-huruf itu. Jika ada yang ia lupa, Raynar akan berlari mencari aku dan bertanya huruf yang belum ia tahu. Hal ini Raynar lakukan saat usianya 4 tahun (usia saat Raynar playgroup besar).

Permainan yang kemudian kerap dilakukan di rumah adalah permainan ‘Gagarudaan’. Permainan ini adalah permainan saat aku kecil dulu. Para pemain menunjukkan jarinya sesuai dengan jumlah yang diinginkan yang kemudian dihitung A-B-C dan seterusnya. Jika jari yang ditunjukkan oleh semua pemain sejumlah 10, maka huruf yang harus dicari katanya adalah huruf J. Namun saat awal, Raynar aku ajak untuk mencari kata-kata dari huruf vokal (AIUEO) terlebih dulu. Raynar harus mencari kata-kata yang berawalan dari huruf vokal terpilih. Permainan ini sangat sederhana namun terbukti dapat melatih kepekaannya terhadap bunyi huruf dan memperbanyak perbendaharaan kosakatanya.

Selain melatih kepekaannya terhadap bunyi huruf, Raynar juga melatih kepekaannya terhadap bentuk-bentuk huruf yang menyusun nama-nama keluarganya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan beragam jenis mainan, beberapa di antaranya adalah pasir kinetik yang dicetak menggunakan mainan huruf.

Menurutku proses perkembangan kemampuan membaca Raynar adalah dari menumbuhkan minatnya terlebih dulu. Minatnya terhadap buku sebelum ia benar-benar bisa membaca terus dipupuk, bagaimana pun caranya. Mulai dari mengajaknya ke perpustakaan, meminjamkan buku dari perpustakaan, atau berburu buku bersama di toko buku online atau ke event BBW. Tujuannya adalah agar Raynar tahu bahwa membaca buku itu menyenangkan, banyak buku seru yang bisa dibaca, dan menarik rasa penasarannya untuk bisa mengetahui sendiri cara baca bukunya. Selain itu, ia akan lebih memahami bahwa yang dibacanya memiliki makna. Ia pun dapat lebih mampu mengembangkan imajinasinya, mengembangkan kemampuannya berbahasa, berkomunikasi, bercerita dengan baik. Dan inilah sebenarkan yang dibutuhkan, anak membaca untuk belajar bukan hanya sekedar belajar membaca, anak memiliki kosakata yang luas untuk digunakananya dalam berkomunikasi. Kosakata tidak hanya digunakan sebatas pengetahuan umum saja. Kemampuan Raynar berbahasa lisan, bercerita, dan berkomunikasi, tentunya yang perlu dikuatkan terlebih dulu sebelum ia benar-benar bisa membaca secara teknis. Tujuannya adalah agar ia lebih memahami apa yang ia baca nantinya.

Dengan terus memberikan fasilitas buku cerita bergambar yang menarik, membuat minat baca Raynar semakin berkembang. Hal ini juga membuat kemampuannya membaca semakin baik. Selain membaca secara teknis, Raynar mulai mencoba kemampuannya dalam menceritakan kembali buku-buku yang pernah dibacakan, mendongeng, dan membuat ceritanya sendiri.

Raynar membuka buku tentang dinosaurus dan menyamakannya dengan mainan yang dimilikinya. Buku ini berbahasa Inggris dan saat itu Raynar belum bisa benar-benar membaca.
Raynar di perpustakaan. Baca buku dengan melihat gambarnya saja. Saat ini sudah hafal semua huruf, sudah peka bunyi dengan main ‘Gagarudaan’ tapi belum benar-benar bisa membaca secara teknis.
Lagu Dinosaurus yang diciptakan Raynar berdasarkan buku cerita Dinosaurus yang sudah pernah berulang-ulang ia dengarkan. Menurutnya, jika Dinosaurus makan makanan yang bukan seharusnya pasti akan sakit perut. Lagu dibuat saat Raynar awal TKA.
Raynar mencoba menceritakan buku cerita yang lagi sering dibacakan olehku di rumah di hadapan teman-teman kelasnya dan gurunya secara online. Buku ini berbahasa Inggris, namun aku sering bacakan dalam bahasa Indonesia. Saat Raynar bercerita, kata-katanya ada yang mirip dengan yang aku bacakan. Sesekali, aku memberi pancingan kata-kata untuk ia lanjutkan. Ia menceritakan buku ini saat TKA di semester 2.
Pada semester 1 TKB, Raynar mencoba menciptakan ceritanya sendiri. Ia hanya diberi tema ‘pahlawan’ dan bebas berpendapat tentang pahlawan versinya sendiri.
Saat TKB, Raynar aku ajak untuk mendongeng. Ia menceritakan buku yang juga sudah sering aku bacakan. Kali ini ia diberi bantuan gambar berupa story bone untuk memandunya bercerita.

Sejak usia Raynar menginjak 5 tahun, kepekaan bunyinya terhadap huruf semakin kuat. Ia makin mampu mengaitkan bentuk huruf yang dilihatnya dengan bunyi huruf yang didengarnya dan mengombinasikannya dengan huruf lainnya. Ia mulai mencoba sendiri membaca suku kata pertama dari pesan WA yang muncul di hp-ku, mencoba mengaitkan nama kontak yang tertulis di WA dengan foto yang dilihatnya. Sejak saat itu, mulailah aku mencoba mendorong Raynar membaca kata-kata sederhana bermakna.

Setelah Raynar mencoba menyusun beragam jenis mainan huruf-huruf menjadi kata-kata sederhana bermakna, ia mulai tertarik untuk menuliskan kata-kata sesuai dengan minatnya. Aku memberikannya kesempatan untuk mencoba menulis sendiri dengan cara mengucapkan kata-kata yang ingin dituliskannya. Dengan sudah terlatihnya Raynar bermain dengan kepekaan bunyi huruf melalui permainan dan rutin menyimak cerita buku (read aloud), ia mencoba menulis sendiri kata-kata yang diinginkannya. Meski belum semua kata dituliskan dengan tepat, namun yang ditulisnya sudah semakin dapat dipahami. Misalnya, Raynar ingin menuliskan ‘trotoar’ namun ia menulisnya dengan ‘terotowar’. Kemampuan ini sudah Raynar dapatkan di usia 5 tahun (TKA).

Saat Raynar di TKB (semester 1), Raynar sedang senang bermain bola. Aku kemudian menantangnya membuat tulisan mengenai kesukaannya. Raynar boleh mencampurkannya dengan imajinasi. Aku menyediakan selembar kertas bergaris untuk memfasilitasinya menuliskan cerita.

Raynar menuliskan kesukaannya bermain bola.
Ia menulis ‘Aku suka main bola sambil sulap, karena bisa badan dan tangan dan kepala tidak bekerja tapi kaki bekerja’.

Saat itu, Raynar juga menggambarkan dirinya sedang bermain bola, namun badan dan kakinya terpisah. Menurutnya, ia bisa bermain bola sambil sulap dengan memisahkan badan dari kakinya. Kaki tetap bermain bola namun kepala dan badan duduk-duduk santai 😉

Memasuki semester 2 TKB (usia 6 tahun), kemampuan membaca teknis dan pemahamannya terjadap bacaan semakin kuat. Ia mulai membaca sendiri buku-buku cerita miliknya (yang menarik minatnya). Bahkan saat ia menemukan buku komik milikku, Raynar mencoba membacanya dan akhirnya minta dibelikan komiknya sendiri.

Raynar berada dalam tahapan perkembangan anak yang normal sesuai dengan usianya. Namun aku tidak membutuhkan media lembar kerja, buku huruf / buku belajar membaca dan menulis yang mengajak anak mengulang-ulang tulisan atau suku kata tak bermakna. Aku tidak mengalami ’emosi’ saat Raynar tidak bisa membaca suku kata yang ditulis berulang-ulang karena memang tidak dilakukan. Dan aku memberinya kesempatan berhasil menulis sendiri bagaimana pun bentuk tulisannya, dan bagaimana pun ejaannya. Namun sejauh ini masih bisa dipahami apa yang Raynar ingin tuliskan.

Belajar membaca prosesnya dapat dilakukan sejak bayi masih berada dalam kandungan. Kegiatannya hanya melakukan kegiatan sehari-hari dan membacakan buku cerita secara rutin adalah suatu keharusan. Mengembangkan kemampuan anak berbicara secara aktif pun perlu dilakukan terlebih dulu. Maka, teori-teori para ahli bukan hanya sekedar teori, hal itu memang benar adanya. Belajar membaca dan menulis secara formal memang dilakukan saat anak berusia 7 tahun di kelas 1 SD namun proses persiapan serta pengembangan minatnya dapat dilakukan sedini mungkin. Hal ini juga dibutuhkan untuk menemukan jika anak memiliki ciri-ciri kesulitan belajar spesifik. Anak akan membaca untuk kebutuhannya belajar, jangan menjadikan anak belajar membaca terus menerus tanpa minat dan makna.

Membaca itu menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *