Proses literasi semakin banyak digerakkan di negeri ini, namun banyak terjadi mispersepsi dalam penerapannya. Padahal literasi melingkupi banyak aspek, bahkan dalam pengembangan karakter. Sebagai guru (dan juga orangtua) tentu ingin anak (-anak) mengalami proses membaca yang utuh. Bagaimana proses membaca yang utuh? Sebuah penelitian sederhana kulakukan sejak awal tahun 2015, hanya untuk sekedar membuktikan bahwa read aloud dapat membantu perkembangan karakter dan bahasa anak hingga kemampuannya terhadap keaksaraan. Langkah awal yang dilakukan adalah berbicara sendiri pada janin dalam kandungan, membacakan buku cerita pada anak yang wujudnya pun belum diketahui. Berdasarkan banyak teori serta penelitian di luar sana bahwa membacakan buku pada janin akan berhasil, makaRead More →

“Tidak ada makanan gagal di Jepang.” Kalimat ini spontan kuucapkan setelah mencicipi beberapa street food di Jepang. Tepatnya, saat malam pertama aku menginjakkan kaki di Osaka. Sesampainya di hotel, setelah istirahat sejenak meluruskan badan dan mandi, aku dan beberapa teman berjalan menuju Dotonbori Street, Osaka. Kabarnya di sepanjang jalan itu banyak sekali kedai jajanan yang terkenal enak. Tapi karena aku telat makan siang, tentu saja aku dan teman-teman langsung mencari rumah makan untuk makan berat sebelum mencicipi cemilan khas Jepang. Berbekal petunjuk Google Map, kami berjalan menuju Naritaya Halal Ramen. Tempat ini memiliki nama yang sama dengan kedai ramen yang tahun lalu kucoba di daerahRead More →

Di awal pernikahan, aku dan suami sempat mengalami long distance marriage meski tidak terlalu lama. Aku dan suami memang bersepakat, jika kami sudah menikah, kami harus bersama. Apalagi jika sudah memiliki anak. Saat itu, suami yang bekerja di Jakarta mengusahakan agar dapat dipindah ke Bandung meski dengan upah yang menyesuaikan dengan standar di Bandung. Selama 6 tahun usia pernikahan, kami bersama di satu kota. Meski seringkali kami berpisah karena tugas atau karena aku menjalani me time. Paling lama kami berpisah sekitar 2 minggu ketika aku atau suami mendapat tugas kantor keluar kota. Dan akhirnya, sebulan lalu suamiku mendapat keputusan pindah tugas dan harus kembali stayRead More →

Aku memiliki dua peran yang membuatku bisa memahami sulitnya menjadi guru anak usia dini di sekolah dan menjadi ibu seorang anak usia dini di rumah. Aku paham ketika memang ternyata anak di rumah sulit menuruti apa yang diucapkan ibunya ketimbang hal yang disampaikan oleh gurunya. Meskipun aku juga guru, aku juga mengalami sulitnya mengelola emosi saat anak tantrum di rumah. Aku terkadang lebih merasa bisa konsisten dengan 20 anak di sekolah dibandingkan mengurus satu anak di rumah. Aku paham. Di rumah dan di sekolah bisa membuat perilaku anak menjadi sangat berbeda, dan tentu saja tidak semua yang sukses diterapkan di kelas, bisa sukses juga dilakukanRead More →

Aku sering melihat #PapuaJugaIndonesia tanpa benar-benar paham maknanya. Ya memang Papua itu Indonesia kan… Sampai akhirnya aku berkesempatan mengunjungi Papua di bulan Maret lalu. Bukan, kali ini bukan untuk liburan. Aku mendapat tugas mengajar guru-guru di sana, tepatnya di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Atau mungkin lebih cocok kalau disebut dengan kegiatan sharing pengalaman menulis cerita untuk anak-anak. Aku senang melakukan perjalanan. Tapi sejujurnya, sebenarnya aku takut naik pesawat. Apalagi waktu itu, aku harus pergi sendiri dengan penerbangan tengah malam. Aku harus terbang dari Jakarta dan berangkat dari Bandung sore hari. Ternyata, perjalanan yang cukup lancar membuat travel tiba pukul 20.00 dan aku harus menunggu 2Read More →

Kegiatan outdoor masih sangat penting untuk Raynar yang belum berusia 4 tahun. Tapi semakin hari, area lapangan atau tempat luas yang dekat dengan alam semakin sulit ditemui di perkotaan. Kalau pun ada, jaraknya yang agak jauh dari rumah dan perlu meluangkan waktu seharian untuk bisa datang ke sana. Sudah sejak beberapa bulan lalu, aku tahu tentang @kebunbelakang dari adikku yang sempat menghadiri acara Pasar Sehat di sana. Tempatnya bisa dijangkau hanya sekitar 10 menit saja dari rumah naik ojeg online. Sabtu lalu, aku mencoba datang ke @kebunbelakang untuk survey tempat kegiatan bersama anak-anak sekolah, sekaligus mengajak Raynar main. Sejak Jumat, aku sudah menyampaikan rencana berkunjungRead More →

Tuhan menyapaku lewat sandal hitam bersol tebal ala tahun 50an bermotif polkadot. Hari di penghujung bulan Mei 94 itu aku menulis di buku harianku. ‘Tuhan, kalau Kau buat aku lolos ujian Ebtanas dengan nilai tertinggi, aku tak akan lupa untuk menyembahMu.’ ‘Jangan lupa Tuhan. Berikan aku rizki lewat menyanyi di akhir bulan ini. Supaya aku bisa membeli sandal bersol tebal layaknya kepunyaan Nurazizah. Aamiin…’ Sejak kecil, shalatku hanya kulakukan berjamaah di pengajian sore atau di sekolah. Di rumah? Hanya kulakukan shalatku kalau pakdeku mulai berpidato, “Tak berdoa, tak sembahyang. Sudahlah jadi makhluk tak beragama saja!” Maka aku pun berlalu dengan lunglai dari hadapan TV menujuRead More →

Ketika memutuskan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, yang pertama dipikirkan pastinya adalah kehalalan makanannya. Itu pun yang aku pikirkan saat akan melakukan perjalanan ke Tokyo karena aku memang agak sulit kalau kelaparan. Hehe… Di Tokyo sebenarnya sudah cukup banyak makanan dan tempat makan yang halal baik yang sudah tersertifikasi maupun yang belum. Karena di Jepang, pengurusan sertifikat halal kabarnya cukup sulit dengan langkah yang cukup panjang. Karena itu, selain mencari tempat makan halal, aku pun membawa beberapa bekal makanan yang bisa kusimpan di hotel atau dibawa di dalam tas selama perjalanan. Seperti biskuit, cereal, susu, minuman coklat, dan kopi.  Hal ini penting untuk mengantisipasiRead More →

Sudah nonton film Mary Poppins Returns? Film Mary Poppins adalah film musikal yang dibuat pertama kali di tahun 1964. Film itu diangkat dari cerita seri buku karya P.L. Travers dan ilustrator Mary Shepard. Mary Poppins adalah seorang pengasuh (sekaligus penyihir) yang bekerja di keluarga Banks. Mary Poppins mengasuh Michael dan Jane, anak keluarga Banks. Namun kemudian Mary Poppins pergi menghilang saat ‘pintu sudah terbuka’. Di film Mary Poppins Returns, Mary Poppins kembali dengan cara yang tak biasa. Ia mendarat dengan cara memegang layang-layang yang diterbangkan oleh cucu keluarga Banks, yang tak lain adalah anak-anak dari Michael Banks yang telah dewasa. Mary Poppins langsung mengenali Annabel,Read More →

Aku pecinta langit biru. Kemana pun langkah ini pergi, langit biru akan selalu kuburu. Perjalanan random menjelang akhir tahun lalu adalah salah satu pemburuan langit biruku. Ketika aku melihat langit, saat itu pula aku melakukan kontemplasi diri dan hati. Jepang, khususnya Tokyo adalah destinasi yang kuputuskan berdasarkan perasaan. Kamu pergi, aku pergi. Tidak ada urusan lain. Yang penting aku bisa mau pergi. Dan keputusanku ini membuatku kemudian banyak berpikir dan yakin. Jepang adalah negara yang sudah sering membuatku patah hati sejak awal tahun 2000-an. Aku begitu banyak mengirimkan impian dan harapan ke sana, namun sering kali tak kunjung berbalas. Semua orang pasti punya negara impian untukRead More →